Thursday, March 31, 2011

Jembatan Merah Riwayatmu Kini

JEMBATAN Merah. Jembatan bersejarah yang menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo melawan para penjajah Belanda, kini masih gagah, membujur di atas Sungai Kalimas, membelah kawasan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun Surabaya. Meski sedikit keropos di beberapa sisi, namun kegagahan jembatan ini masih tetap terlihat. Dengan desain arsitekturnya yang khas, dan warna jembatan yang sengaja di cat merah, membuat siapa pun yang melintas diatasnya akan merasakan, bahwa disini, di atas jembatan ini, nyawa arek-arek Suroboyo, menghunus bambu runcing yang sederhana, dipertaruhkan. Tingginya nilai sejarah yang disimpan oleh Jembatan Merah, Gesang, seorang penyanyi keroncong terkenal, mempopulerkan sejarah Jembatan Merah dalam lagu berjudul sama, yang kini lagu tersebut menjadi lagu legendaris yang tetap diingat oleh lintas generasi. Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada tanggal 11 November 1743. Dalam perjanjian tersebut disebutkan, sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itulah Surabaya berada sepenuhnya dalam penguasaan Belanda. Kawasan Jembatan Merah, dari dahulu hingga kini merupakan pusat bisnis Kota Surabaya. Kini, di sekitar jembatan ini, berdiri pusat perbelanjaan Jembatan Merah Plaza yang kokoh dan menjadi jujukan para pedagang dan pembeli dari seantero kota, bahkan dari luar kota. Di Jalan Rajawali yang berada tepat di barat Jembatan Merah juga masih berdiri kokoh Hotel Ibis Surabaya. Sejumlah perkantoran dan bank juga ada. Tak hanya itu, Jembatan Merah juga dekat dengan bekas bangunan LP Kalisosok, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi penyiksaan para pejuang. Jika Anda tengah mengunjungi Kota Surabaya, rasanya belum lengkap jika tidak mengunjungi wisata sejarah Jembatan Merah. Di atas sungai yang mengalir, akan terasa sebuah sensasi bahwa disini, di jembatan ini, pertumpahand arah melawan sekutu telah terjadi. Awalnya Jembatan Merah ini bangunan fisiknya terbuat dari kayu. Namun pada sekitar tahun 1980-an, Pemerintah Kota Surabaya mengubah konstruksi pagar pembatasnya dari kayu menjadi besi. Agar tidak kehilangan ciri khasnya, jembatan ini secara keseluruhan dicat warna merah. Secara fisik, bentuknya memang tidak berbeda dengan jembatan-jembatan lain, warna merah itulah yang menjadi pembeda. Di timur Jembatan Merah adalah Jalan Kembang Jepun. Pemerintah Kota Surabaya menjadikan jalan ini sebagai kawasan pecinan. Setiap pagi hingga menjelang sore kawasan ini padat pedagang. Untuk menghidupkan suasana Kembang Jepun kala malam, meski sekarang sudah ditutup, di kawasan tersebut pernah berdiri pusat jajanan Kya-Kya, yang menjadi tempat nongkrong anak muda dan keluarga. Mulai ujung hingga ke ujung, di sepanjang jalan yang panjangnya sekitar 300 meter tersebut, didesain khas dengan unsur budaya China yang kental. Mungkin di Surabaya inilah satu-satunya jalan yang berasitektur khas negerinya Kungfu Panda, negeri Tirai Bambu. Pas di timur jembatan, para pengguna jalan akan disambut dengan gerbang berhias patung naga. Unik dan sangat indah. Salah seorang wisatawan Belanda, Van Jork, pernah mengatakan, keberadaan Jembatan Merah saat dikuasai VOC sangat vital. Jembatan ini menjadi sarana penghubung transportasi yang sangat penting sehingga keberadaannya begitu diperhatikan pemerintah. Tidak heran jika kemudian di ujung barat jembatan, gedung karesidenan Surabaya dibangun. Tujuannya tak lain agar pemerintah saat itu bisa mengawasi langsung kebersihan dan ketertiban di sekitar area Jembatan Merah. Di sekitarnya pun, kantungkantung tempat tinggal, pada zaman dahulu, dibuat terpisah-pisah. Di sebelah barat gedung karesidenan, dulu tinggal orang-orang Eropa. Di Jalan Kembang Jepun, menjadi area tinggal orang-orang China dan di sisi utara tepatnya di kawasan Kampung Ampel berhuni orang-orang keturunan Arab dan Melayu. Praktis, Jembatan Merah menjadi kawasan multi etnis, yang hingga kini tetap dapat hidup berdampingan. Saling menghormati satu sama lain. Meski kini hanya tersisa etnis China di Kembang Jepun dan Arab di kawasan Kampung Ampel namun terbukti hingga saat ini kedua etnis tersebut dapat hidup berdampingan tanpa konflik. Hingga kini, Jembatan Merah masih menjadi pusat bisnis yang menjanjikan. Karena banyaknya orang yang berlalu lalang, di trotoar Jembatan Merah kini banyak mangkal para tukang becak yang melepas lelah sambil menunggu penumpang. Karena semrawut, beberapa polisi sering menertibkan kawasan tersebut dari para tukang becak. Namun tetap saja meski ditertibkan para tukang becak masih membandel. Mungkin mereka merasa wilayah tersebut sudah menjadi lahan rezekinya. Menjadi pusat bisnis, otomatis banyak pengunjung yang mengunjungi kawasan Jembatan Merah. Dan tentu saja ada side effect dari fenomena ini. Di depan Jembatan Merah Plaza terdapat terminal bayangan yang menjadi tempat mangkal bayangan sejumlah mikrolet dan bus kota. Hal ini tentu saja menyebabkan ruas jalan menjadi sering macet. Pemkot pun bekerjasama dengan beberapa pihak sudah berupaya untuk menertibkan kawasan ini. Kondisinya sekarang pun sudah lumayan, meski masih ada mikrolet dan bus kota yang nekat mangkal namun suasananya sudah tak separah dulu. Namun upaya penertiban itu tak akan pernah berhenti. Meski sedikit banyak beberapa gedung di sekitar Jembatan Merah sudah berubah, namun ada beberapa bangunan yang masih terawat dengan baik dan masih terjaga keasliannya. Bangunan ini kini menjadi tempat beberapa perkantoran yang menjaga keaslian bentuk bangunan. Diantaranya adalah Perusahaan Asuransi Fa.Froser Eaton & Co yang dibangun sejak 1911 dan kini digunakan oleh PT Persero Asuranasi Jiwasraya. Hotel Ibis juga tetap tampil menawan meski ada beberapa tambahan di bagian depan bangunan asli. Gedung Internationale Credit en Handelvereeniging Rotterdam (Internatio) yang dibangun pada tahun 1929 kini juga masih berdiri megah dan dijadikan kantor PT Tjipta Niaga.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Elf Coupons