Pemerintah Kota Surabaya tak
tinggal diam ketika
terjadi banjir Surabaya awal
Desember lalu. Bisa dibilang,
banjir yang menggenangi hampir
semua kawasan Surabaya
setinggi lebih dari satu meter
ini membuat hampir seluruh
SKPD beserta stafnya menjadi
super sibuk. Walikota pun tak
segan-segan turun ke lapangan
untuk bersama mencegah banjir
ini tak semakin parah.
Untuk antisipasi banjir,
Pemkot Surabaya sebenarnya
sudah memiliki 34
rumah pompa. Bahkan
rumah pompa ini akan ditambah lagi
sebanyak tiga rumah pompa, yaitu
rumah pompa Sememi, Greges dan
Semolowaru.
Tak hanya rumah pompa, pemkot
pun sudah menyiagakan sebanyak
150 staf. Mereka adalah petugas dari
Bakesbangpol dan linmas yang siap
jaga setiap hari. Mereka siap untuk
diterjunkan ke kawasan rawan banjir
setiap saat. Sebanyak 150 orang
tersebut terdiri dari 100 orang hansip
dan 50 orang staf yang siap diterjunkan
ke lapangan jika sewaktu-waktu
genangan air cukup tinggi.
Kewaspadaan mereka akan semakin
bertambah jika air laut sedang
pasang dan ada banjir kiriman dari
hulu.
Terlebih curah hujan akhir-akhir
ini cukup tinggi seperti yang diramalkan
oleh Badan Meteorologi dan
Geofisika (BMKG) Juanda.
Berdasarkan prediksi BMKG Juanda,
curah hujan tahun ini memang cukup
tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pada Desember lalu, saat banjir menggenangi Surabaya, curah
hujan mencapai lebih dari 100
milimeter per harinya. Angka itu termasuk
kategori curah hujan ekstrim.
Para petugas ini harus waspada
setiap saat terutama jika hujan turun
dengan lebat. Sejumlah kawasan
yang rawan terjadi banjir seperti Jl.
Mayjen Sungkono, Simo Jawar, Sukomanunggal,
Pakal, Sidotopo, Bulak,
Dharmawangsa, Kebonagung pun tak
luput dari pantauan mereka. Selain
itu kawasan lain seperti Kalirungkut,
Kalidami, Wonokromo, Wonocolo,
dan Rungkut Sier juga menjadi target
pantauan.
Para petugas yang digerakkan
tidak hanya semata-mata petugas
yang siap diterjunkan jika terjadi
banjir namun juga penyiagaan petugas
rumah pompa. Tak hanya itu
Dinas Bina Marga dan Pematusan
juga selalu mengoptimalkan upaya
untuk mengeruk endapan pada saluran-
saluran air, baik itu got, gorong-gorong
maupun sungai.
Erna Purnawati, Kepala Dinas
Bina Marga dan Pematusan Kota
Surabaya mengatakan banjir yang
terjadi Desember lalu disebabkan selain
karena curah hujan yang diatas
rata-rata juga karena dua titik spot
yaitu Jagir Wonokromo dan Kali Lamong
yang bermasalah. Sedangkan
dua titik spot ini bukan wewenang
dari Pemerintah Kota Surabaya. Jagir
Wonokromo menjadi wewenang dari
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)
Brantas dan Kali Lamong menjadi
wewenang dari BBWS Bengawan
Solo.
Permasalahan dari dua saluran
air tersebut adalah, kawasan sungai
Jagir Wonokromo tidak memiliki
tanggul yang memadai. Sehingga
sungai tidak kuat menampung air
hujan dan meluap karena tidak ada
tanggul penahannya. Akibatnya banjir
pun terjadi. Hal ini kemudian dihadapi
oleh Dinas Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya dengan
melakukan koordinasi dengan Jasa
Tirta dan BBWS Brantas, untuk membuat
tanggul sementara sepanjangan
setengah kilometer. “Kami telah
berkoordinasi dengan Jasa Tirta dan
BBWS Brantas untuk membuat tanggul
sementara. Tanggul ini sangat
penting untuk menahan luapan jika
curah hujan tinggi seperti yang terjadi
pada banjir Desember,”jelas
Erna.
Sedangkan permasalahan yang
terjadi di Kali Lamong adalah tingkat
sedimentasi atau endapan sudah
sangat tinggi. Sungai yang berada di
wilayah perbatasan Surabaya dan
Gresik ini endapannya sudah mencapai
hampir separo dari kapasitas sungai.
Sehingga daya tampung dari
sungai ini tinggal setengah dari volume
sungai. Akibatnya ketika curah
hujan cukup tinggi, sungai ini mudah
meluap. Apalagi bagian sungai yang
melintasi Kota Surabaya cukup panjang,
mencapai 13,5 km. Tentu perlu
diadakan pengerukan sedimen sebagai
upaya normalisasi agar Kali Lamong
ini bisa berfungsi optimal.
Diakui Erna, saat ini salah satu
tugas terberat dari Dinas Bina Marga
dan Pematusan addalah mengurangi
endapan dengan melakukan pengerukan.
Seperti ketika diwawancara
Gapura pertengahan Desember lalu,
Erna dan tim Pematusan tengah melakukan
pengerukan sedimen di saluran
air Babadan Rukun. Aliran air
yang bermuara di Bozem Morokrembangan
ini memang mengalami sedimentasi
yang cukup tinggi. Dinas
Bina Marga dan Pematusan melakukan
pengerukan selama lima hari,
mulai 12 Desember hingga 16 Desember
2010.
Sebelum melakukan pengerukan,
tim pematusan dibantu satpol PP,
menertibkan sekitar 200 stan pasar
sore yang ada di pinggiran saluran air
Babadan Rukun ini. Stan-stan pasar
sore ini selain menempati area pinggiran
tanggul yang bukan diperuntukkan
untuk berjualan, juga
merusak keindahan tata kota. Setelah
menertibkan 200 stan pasar sore,
tim pematusan kemudian melakukan
pengerukan di sepanjang saluran air
ini dengan dibantu dua alat berat
(eskavator) dan sembilan buah truk.
Pengerukan dilakukan sepanjang saluran
air hingga ke Rumah Pompa. “Selama lima hari pengerukan, kami
berhasil mengangkat 200 rit endapan
dari sepanjang saluran air ini,”ujar
Erna.
Pengerukan endapan memang
menjadi pekerjaan rutin yang harus
dilakukan oleh tim pematusan. Pernah
suatu ketika, walikota Surabaya
Tri Rismaharini turun langsung untuk
memantau proses pengerukan endapan
di saluran bawah jalan raya
Dupak Raya. Tim amfibi (sebutan
untuk satgas pematusan yang bertugas
membersihkan endapan) sempat
mengalami kesulitan saat membersihkan
sumbatan yang ada di saluran
crossing di bawah jalan Dupak Raya
ini. Saking solidnya sumbatan, Walikota
Tri Rismaharini bahkan sampai
mendatangkan mobil Pemadam Kebaran
(PMK) untuk menyemprot
bawah saluran dengan air tekanan
tinggi.
Selain di saluran air Babadan
Rukun, Pe-Er Dinas Bina Marga dan
Pematusan Kota Surabaya masih ada
beberapa lagi. Dua diantaranya
adalah pengerukan endapan di Sungai
Greges dan Sungai Wonorejo
yang juga memiliki endapan cukup
tinggi. Tahun depan rencananya,
untuk memudahkan proses
pengerukan endapan ini, Dinas Bina
Marga dan Pematusan akan
menyewa lima buah eskavator.
Proses pengerukan endapan di
Babadan Rukun beberapa waktu lalu
juga disaksikan oleh warga
masyarakat setempat. Kegiatan ini
juga menjadi semacam penyadaran
bagi masyarakat sekitar Babadan
Rukun agar tidak menganggap sungai
sebagai objek mati yang dapat diperlakukan
seenaknya.
Masyarakat kadang berpikir terlalu
sederhana ketika membuang
sampah di saluran air atau sungai.
Pikirnya dengan membuang sampah
di sungai mereka menganggap aliran
sungai akan membawa sampah yang
mereka buang itu menuju laut.
Masyarakat sering lupa bahwa sampah
itu bisa berhenti atau nyangkut
di suatu tempat dan bisa menghambat
aliran air sungai. Akibatnya ketika
curah hujan sedang tinggi, sungai
tidak bisa menampungnya karena
sudah penuh sampah dan akhirnya
meluap menggenangi rumah-rumah
warga.
Erna berharap masyarakat
terutama di kawasan di pinggiran aliran
sungai menyadari hal ini dan
membantu upaya pemerintah dalam
melakukan normalisasi fungsi saluran
air. Salah satunya dengan mencegah
tangan-tangan nakal yang nekat
membuang sampah ke sungai. Jika
masyarakat bisa mempertahankan
komitmennya untuk menjaga sungai,
banjir yang sering melanda Surabaya
bisa diminimalkan.