This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Thursday, March 31, 2011
Keutamaan Ilmu Bagi Kehidupan Manusia
Alam sekitar merupakan ilmu yang harus dipelajari disamping ilmu yang
didapat secara formal
Ilmu merupakan suatu keniscayaan bagi semua manusia, ilmu akan menuntun
manusia/pemiliknya kepada jalan-jalan kebenaran dan keselamatan
sebagaimana lampu yang yang dapat menuntun orang dikegelapan malam serta
berbagai macam keutamaan dari ilmu yang dapat diambil oleh manusia
dalam melangkah sebagai khalifah di muka bumi. Ada beberapa macam
keutamaan ilmu bagi kehidupan manusia, diantaranya :
- Ilmu adalah merupakan kebutuhan setiap individu manusia yang sangat
substansial atau mendasar, terlepas dari realitas dimana tidak setiap
orang menyadari kedudukan dan arti pentingnya ilmu
- Ilmu merupakan kunci bagi terbukannya wawasan dan pemikiran manusia -
Ilmu merupakan “software” yang menggerakkan perubahan dan kemajuan
peradaban manusia
- Ilmu merupakan pintu pemecahan dan pemahaman atas semua persoalan dan
menyelami kedalaman dan kearifan hikmah
- Ilmu merupakan wahana –wahana yang memungkinkan manusia memperhalus
budi pekerti
- Ilmu merupakan penentu bagi rendah atau tingginya derajad seseorang
dalam pandangan sesamanya dan dalam pandangan Allah SWT. Sebagai Sang
Pencipta apabila disertai keimanan dalam diri seseorang Dalam Islam
sedemikian pentingnya ilmu bagi manusia, dimana Allah SWT. telah
menurunkan ayat pertamanya dalam Al-Qur’an sebagai tuntunan pertama yang
disampaikan kepada hamba-Nya umat manusia melalui Rosulullah Muhammad
SAW. (QS ; Al Alaq ; 1 ) ” Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang
menciptakan ” Makna ayat tersebut jelas bahwa Allah SWT. membimbing kita
semua semua untuk menempatkan aktifitas membaca sebagai dasar yang
asasi dalam kehidupan dan apabila kita mencoba menangkap, memahami dan
mengamalkan esensi dari ayat tersebut, niscaya tidak akan ada manusia
yang tersesat, tidak akan ada manusia yang rendah martabatnya dan tidak
akan ada kenistaan dan kekacauan di muka bumi.
Mari kita coba pahami secara mendalam ayat tersebut diatas sesuai
esensinya sehingga bisa menyelamatkan umat manusia ” Bacalah dengan
menyebut nama Tuhanmu ”
Bacalah :
Silahkan baca dan dalami apapun ilmu yang ada di alam jagat raya ini,
apakah manusia menyebutnya sebagai ilmu agama, ilmu biologi, fisika,
kimia, almi astronomi, ilmu sejarah dan apapun nama ilmu yang ada di
jagat raya ini. Menyebut Nama Tuhanmu/Alloh SWT. :
Mempelajari dan mendalami ilmu apapun di jagat raya ini jika disertai
dengan membuka suara hati atau nurani, diiringi dengan Rahmat-Nya Tuhan
Sang Pencipta maka niscaya akan mengantarkan ilmu tersebut pada satu
titik pencapaian yang sama yaitu kesadaran akan ke Maha besaran Sang
Maha pencipta, sehingga Ilmu itu akan mengantarkan kepada keimanan akan
eksistensi Sang maha Pencipta.
Makna dari pengertian diatas bahwa apabila manusia sadar dan faham akan
eksistensi Sang Maha Pencipta yang Maha Memiliki Ilmu, manusia tidak
akan pernah berani menggunakan ilmu yang dimiliki untuk berbuat
kerusakan di muka bumi, dan apabila ilmu yang dimiliki didasarkan pada
iman niscaya dengan ilmu tersebut manusia akan terbimbing untuk
memanfaatkannya untuk menaikkan dan mengangkat derajad kemanusiaan dan
peradaban di muka bumi
Timbul pertanyaan bagi manusia kenapa ilmu dianggap penting bagi manusia
?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu kita kembali kepada firman Allah
SWT. (QS; Al-Baqoroh ayat 30 ) yang artinya : ” Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku (Allah SWT) hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi ” dan (QS; Adz Dzariyat ayat 56
) yang artinya ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
Arti dari ayat tersebut diatas bahwa manusia dihadirkan di muka bumi
mengemban misi khusus yang tidak diembankan kepada makluk Alloh lainnya,
termasuk kepada malaikat sekalipun, dimana manusia menyandang predikat
sebagai khalifah atau wakil Alloh di muka bumi. Dan sebagai wakil-wakil
Alloh di muka bumi merupakan kedudukan yang – Subhanalloh – Allohhuakbar
– teramat sangat mulia dari makluk Alloh lainnya (Semoga kita semua
termasuk orang-orang yang senantiasa memperoleh bimbingan dari Alloh
SWT.)
Sebagai wakil-wakil Alloh yang wajib kita tumbuhkan dan patri dalam kuat
kuat dalam hati kita sehingga bisa menjadi komitmen hidup secara total
yaitu menjadi khalifah yang mengabdi kepada Alloh , itulah yang harus
kita garis bawahi tentang misi kehadiran manusia di muka bumi ini dan
untuk melaksanakan misi tersebut manusia membutuhkan bekal ilmu karena
hanya berbekal ilmu orang bisa sukses menjalankan misi hidupnya.
Apabila kita coba membaca keadaan kehidupan sehari-hari akan tampak
adanya perbedaan atau ketidak samaan antara orang yang tidak memiliki
ilmu dengan orang yang berilmu. Sebagai contoh peran kita dalam
bekerja/ditempat kerja dan aktifitas sosial lainnya, dimana untuk
melaksanakan pekerjaan yang benar dan baik dibutuhkan bekal ilmu yang
cukup atas pekerjaan tersebut, bagaimana kita dapat melaksanakan
pekerjaaan atau aktivitas sosial dengan baik dan benar apabila kita
tidak tahu ilmu dari apa yang kita kerjakan.
Oleh karena itu ilmu merupakan kunci jawaban atas semua persoalan dalam
hidup dan orang-orang yang berilmu akan menjalani hidup dalam payung
kemuliaan. Ketika kita tahu sedemikian besar kebutuhan diri akan ilmu,
maka beruntunglah apabila kita termasuk orang-orang yang selalu berusaha
menambah ilmu, banyak jalan yang bisa kita lakukan untuk menambah ilmu
agar tidak tersesat dalam kehidupan seperti bertanya kepada yang
ahlinya, membeli dan membaca buku, mengikuti pendidikan baik formal atau
informal, menghadiri majelismajelis ta’lim dan seterusnya.
Sudah saatnya bagi setiap pribadi muslim untuk memberikan perhatian
lebih besar terhadap ilmu. Alangkah indahnya kalau setiap pribadi muslim
sadar terhadap kebutuhan dirinya akan ilmu yang akan mengantarkan kita
pada naiknya derajad kemanusiaan dan harkat diri, baik dihadapan sesama
manusia dan terlebih dihadapan Sang Maha Pencipta
Hadits riwayat Ath Tabrani : Nabi bersabda ”Keutamaan ilmu lebih baik
dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik ajaran agamamu adalah al wara’”
Semoga Alloh memasukkan kita semua kedalam golongan orang-orang yang
mencintai ilmu, mencintai orang-orang yang mencari ilmu dan orang-orang
yang mengajarkan ilmu dan semoga Alloh meringankan hati kita dalam
menginvestasikan rizki untuk kepentingan manambah ilmu dan membiayai
orang-orang yang mencari ilmu. Aamiiinnn.............
Surabaya Dominasi Penghargaan PU Awards
PRESTASI yang membanggakan kembali diukir kota Surabaya. Setelah
mendapatkan piala Adipura dan Kalpataru 2007, kota Surabaya berhasil
mendapatkan penghargaan PU Awards 2008. Tidak tanggung-tanggung dari
enam kategori kota (metropolitan) yang dipertandingkan, Surabaya menjadi
juara satu untuk tiga kategori dan juara dua untuk tiga kategori.
Melihat hasil evaluasi dan penilaian tim Penilaian Kinerja Pemerintah
Daerah bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) tahun 2008, maka berdasarkan
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 581/KPTS/M/2008, Surabaya
mendapatkan penghargaan Pekerjaan Umum untuk beberapa kategori.
Untuk kategori jalan dan jembatan, Surabaya berhasil menduduki peringkat
pertama. Pada kategori ini Surabaya berhasil mempertahankan prestasinya
karena pada tahun 2007 kota Surabaya juga berhasil mendapatkan
peringkat pertama.
Untuk kategori air minum, Surabaya berhasil meraih peringkat kedua.
Prestasi ini sama dengan prestasi tahun lalu. Sementara untuk kategori
penyelenggaraan sanitasi, Surabaya mendapatkan
peringkat kedua. Prestasi ini mengalami penurunan. Karena pada tahun
2007 Surabaya berhasil meraih peringkat pertama.
Kategori penanganan permukiman kumuh perkotaan Surabaya juga mengalami
penurunan peringkat. Surabaya hanya mendapat peringkat kedua. Padahal di
tahun 2007, berhasil memperoleh peringkat pertama.
Untuk pembinaan bangunan gedung, Surabaya berhasil mempertahankan
prestasinya. Peringkat pertama tetap dalam genggaman seperti tahun
sebelumnya. Prestasi istimewa berhasil didapat dari kategori pembinaan
jasa konstruksi. Pada kategori ini Surabaya mendapat penghargaan khusus.
Karena berhasil meraih peringkat pertama selama tiga tahun
berturut-turut.
”Penghargaan PU Awards ini diserahkan langsung oleh Menteri Pekerjaan
Umum, Djoko Kirmanto, dan diterima langsung oleh Wali Kota Surabaya,
Bambang DH, di Jakarta”, jelas Cak Sinurat.
Menurut Cak Sinurat, pemerintah kota Surabaya merasa bangga dengan
penghargaan yang telah
diberikan. Penghargaan ini merupakan wujud apresiasi kepada warga kota
karena sudah peduli dengan pembangunan infrastrukturnya.
Tentang prestasi beberapa kategori yang turun peringkat dari tahun 2007
ke 2008, Cak Sinurat memiliki anggapan jika mungkin juri/tim penilai
punya parameter khusus untuk mengukur penilaian. Atau bisa juga
dikarenakan kota/kabupaten lain lebih responsif dalam pembangunan
infrasturktur wilayahnya. ”Karena tentu saja mempertahankan prestasi itu
lebih sulit daripada meraihnya”, ujar Cak Sinurat.
PU Awards atau yang lebih dikenal dengan PKPD-PU diselenggarakan oleh
Departemen Pekerjaan Umum. Tujuannya adalah memberikan apresiasi kepada
kinerja pemerintah daerah dalam pembangunan infrastrukturnya. Menurut
Herry Sinurat, Staf Ahli Perancangan dan Pemanfaatan Jalan dan Jembatan
Dinas Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya, PKPD-PU dilaksanakan
Departemen Pekerjaan Umum untuk memberikan motivasi sekaligus evaluasi
kepada pemerintah daerah, baik propinsi maupun kabupaten/kota, terhadap
kemajuan infrastrukturnya.
”Mengukur bagaimana komitmenpemerintah daerah dalam pembangunan
infrastruktur di wilayahnya. Secara umum kriteria penilaiannya terkait
dengan regulasi (peraturan), operasionalisasi, dan pemberdayaan
masyarakat”, jelas Cak Sinurat.
Cak Sinurat menyontohkan misalnya, tentang jalan dan jembatan.
Peraturan-peraturan apa yang mendukung pembangunan jalan dan jembatan.
Seperti peraturan UU tentang Jalan, Peraturan Pemerintah, Peraturan
Daerah, Peraturan Wali Kota, peraturan kepala dinas, dll. Sehingga
kegiatan pembangunan yang dilakukan memiliki payung hukum yang jelas.
Mempunyai kekuatan hukum untuk dapat dioperasionalkan di lapangan.
Kemudian untuk operasionalisasinya, penilaiannya melihat bagaimana
kondisi infrastuktur di lapangan. “Misalnya, untuk jalan dan jembatan.
Pemerintah kota berkomitmen untuk melakukan perbaikan jalan-jalan
protokol. Kita ingin membangun jalan yang berkualitas menuju kota yang
berkelas. Sekarang bisa kita lihat jalan-jalan pedestrian di Surabaya
yang kualitasnya terbaik untuk skala nasional”, terang Cak Sinurat.
Untuk pemberdayaan masyarakat maka sebagai stakeholder pelibatan
masyarakat dalam programprogram pemerintah kota sangat diperlukan.
Caranya dengan menjalin kemitraan-kemitraan pembangunan atau
musyawarah-musayawarah rencana pembangunan.
Untuk mendukung pemerintah kota Surabaya dalam memberikan infrastruktur
yang terbaik bagi warga kota, salah satu upaya adalah meminimalkan
keluhan para pengguna jalan. Caranya dengan menggunakan satgas (satuan
tugas) penambal lubang.
Satgas ini disiapkan untuk merespon keluhan masyarakat jika ada
jalan-jalan yang lubang yang membuat ketidaknyamanan pengguna jalan.
Misalnya, ada keluhan dari masyarakat pengguna jalan, baik di media
cetak maupun di radio, yang menyatakan bahwa banyak lubang-lubang jalan
di daerah Basuki Rahmat yang menggangu kelancaran lalu-lintas. Hal
tersebut langsung mendapat respon dari satgas penambal lubang ini.
Dinas Bina Marga Surabaya mempunyai lima tim satgas penambal lubang.
Mereka tersebar di wilayah Surabaya Timur, Barat, Utara, Selatan, dan
Pusat. Semuanya selalu siap siaga. ”Masing-masing ini kita siapkan
kendaraan operasional. Kendaraan pick up diisi dengan bermacam material
seperti aspal drum, batu, dan peralatan. Selain kendaraan ini, kita juga
back up dengan hot mix (aspal panas)”, ujar Cak Sinurat.
Aspal panas ini dipesan oleh pemkot Surabaya setiap harinya. Ketika ada
jalan yang rusak maka akan segera ditambal dengan batu. Di atasnya
kemudian dilapisi dengan aspal, berulang kali sampai lapisan paling atas
nantinya dilapisi dengan aspal panas.
PU Awards Ajang Apresiasi Kinerja Pemerintah Daerah
PU Awards atau yang disebut juga dengan Penilaian Kinerja Pemerintah
Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) merupakan bentuk penghargaan
Departemen Pekerjaan Umum kepada pemerintah daerah atas kinerja bidang
pekerjaan umumnya.
Latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini didasari oleh UU No.32
tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. UU tersebut membuka otonomi
seluas-luasnya bagi pemerintah daerah untuk menjalankan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Termasuk kewenangan dalam
penyediaan infrastruktur di bidang PU.
Kegiatan PKPD-PU diselenggarakan setiap tahun. Terhitung sejak tahun
2005, kegiatan ini sudah dilakukan. Tujuan utama pemberian penghargaan
adalah memberikan apresiasi dan motivasi kepada pemerintah daerah baik
di tingkat Provinsi, Kota hingga Kabupaten dalam menyediakan
infrastruktur di bidang PU.
Selain itu, tujuan lainnya adalah mengukur kinerja pemerintah daerah
dalam bidang PU dan mendorong kompetisi antara pemerintah
kabupaten/kota. Diharapkan hal ini dapat mendorong pemerintah daerah
untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Daerah-daerah yang menjadi pemenang penghargaan PKPD-PU umumnya
mempunyai karakter
pemimpin (leadership) yang kuat dan pemahaman mendalam mengenai
pentingnya infrastruktur
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Penghargaan PKPD-PU menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi kepala
daerah. Karena kerja keras pemerintahan yang dipimpinnya dalam
penyediaan infrastruktur di bidang pekerjaan umum dihargai oleh
Pemerintah Pusat. Terlebih, kebanggaan bisa memberikan yang terbaik bagi
masyarakat daerahnya.
Ada lima kategori bidang penilaian yang dilakukan pada PKPD-PU 2008.
Diantaranya; bidang Penataan Ruang, Sumber Daya Air, Bina Marga, Cipta
Karya, dan Jasa Konstruksi. Kelima bidang tersebut dikelompokan lagi ke
dalam Sub Bidang dengan kategori penilaian berdasarkan Provinsi, Kota
Metropolitan, Kota Besar maupun Kota Sedang/Kota Kecil dan Kabupaten.
Penilaian terbagi atas dua aspek yaitu aspek fisik dan aspek non fisik.
Aspek fisik melingkupi kelayakan serta fungsi fisik sarana dan prasarana
yang telah dibangun pemerintah daerah.
Sedangkan penilaian non fisik meliputi, kelembagaan, pengaturan,
pendanaan, upaya dalam menciptakan partisipasi masyarakat, manajemen
pengoperasian, dan pemeliharaan. Strategi penilaian juga melihat
transparansi dan akuntabilitas kinerja pemerintah daerah.
Dewan juri yang dilibatkan dalam PKPD-PU terdiri dari kalangan
akademisi, asosiasi profesional, LSM, organisasi masyarakat yang terkait
dengan bidang tertentu yang akan dinilai, dan dari Departemen PU. Semua
juri memiliki independensi yang tidak diragukan lagi.
Untuk menjadi peserta PKPDPU, pemerintah daerah dapat mengusulkan
daerahnya untuk berpartisipasi. Selain itu, pemerintah daerah yang
menjadi peserta juga dapat diusulkan oleh asosiasi profesi, lembaga
kemasyarakatan maupun instansi pembinanya. Daerah yang berminat
kemudian menyampaikan kesediaannya sebagai peserta dan menyertakan
data-data yang dibutuhkan.
Jembatan Merah Riwayatmu Kini
JEMBATAN Merah. Jembatan bersejarah yang menjadi saksi perjuangan
arek-arek Suroboyo melawan para penjajah Belanda, kini masih gagah,
membujur di atas Sungai Kalimas, membelah kawasan Jalan Rajawali dan
Jalan Kembang Jepun Surabaya. Meski sedikit keropos di beberapa sisi,
namun kegagahan jembatan ini masih tetap terlihat. Dengan desain
arsitekturnya yang khas, dan warna jembatan yang sengaja di cat merah,
membuat siapa pun yang melintas diatasnya akan merasakan, bahwa disini,
di atas jembatan ini, nyawa arek-arek Suroboyo, menghunus bambu runcing
yang sederhana, dipertaruhkan.
Tingginya nilai sejarah yang disimpan oleh Jembatan Merah, Gesang,
seorang penyanyi keroncong terkenal, mempopulerkan sejarah Jembatan
Merah dalam lagu berjudul sama, yang kini lagu tersebut menjadi lagu
legendaris yang tetap diingat oleh lintas generasi.
Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang
sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC
pada tanggal 11 November 1743. Dalam perjanjian tersebut disebutkan,
sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan
penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itulah Surabaya berada sepenuhnya
dalam penguasaan Belanda.
Kawasan Jembatan Merah, dari dahulu hingga kini merupakan pusat bisnis
Kota Surabaya. Kini, di sekitar jembatan ini, berdiri pusat perbelanjaan
Jembatan Merah Plaza yang kokoh dan menjadi jujukan para pedagang dan
pembeli dari seantero kota, bahkan dari luar kota. Di Jalan Rajawali
yang berada tepat di barat Jembatan Merah juga masih berdiri kokoh Hotel
Ibis Surabaya. Sejumlah perkantoran dan bank juga ada. Tak hanya itu,
Jembatan Merah juga dekat dengan bekas bangunan LP Kalisosok, sebuah
bangunan bersejarah yang menjadi saksi penyiksaan para pejuang.
Jika Anda tengah mengunjungi Kota Surabaya, rasanya belum lengkap jika
tidak mengunjungi wisata sejarah Jembatan Merah. Di atas sungai yang
mengalir, akan terasa sebuah sensasi bahwa disini, di jembatan ini,
pertumpahand arah melawan sekutu telah terjadi. Awalnya Jembatan Merah
ini bangunan fisiknya terbuat dari kayu. Namun pada sekitar tahun
1980-an, Pemerintah Kota Surabaya mengubah konstruksi pagar pembatasnya
dari kayu menjadi besi.
Agar tidak kehilangan ciri khasnya, jembatan ini secara keseluruhan
dicat warna merah. Secara fisik, bentuknya memang tidak berbeda dengan
jembatan-jembatan lain, warna merah itulah yang menjadi pembeda. Di
timur Jembatan Merah adalah Jalan Kembang Jepun. Pemerintah Kota
Surabaya menjadikan jalan ini sebagai kawasan pecinan. Setiap pagi
hingga menjelang sore kawasan ini padat pedagang. Untuk menghidupkan
suasana Kembang Jepun kala malam, meski sekarang sudah ditutup, di
kawasan tersebut pernah berdiri pusat jajanan Kya-Kya, yang menjadi
tempat nongkrong anak muda dan keluarga. Mulai ujung hingga ke ujung, di
sepanjang jalan yang panjangnya sekitar 300 meter tersebut, didesain
khas dengan unsur budaya China yang kental. Mungkin di Surabaya inilah
satu-satunya jalan yang berasitektur khas negerinya
Kungfu Panda, negeri Tirai Bambu. Pas di timur jembatan, para pengguna
jalan akan disambut dengan gerbang berhias patung naga. Unik dan sangat
indah. Salah seorang wisatawan Belanda, Van Jork, pernah mengatakan,
keberadaan Jembatan Merah saat dikuasai VOC sangat vital. Jembatan ini
menjadi sarana penghubung transportasi yang sangat penting sehingga
keberadaannya begitu diperhatikan pemerintah. Tidak heran jika kemudian
di ujung barat jembatan, gedung karesidenan Surabaya dibangun. Tujuannya
tak lain agar pemerintah saat itu bisa mengawasi langsung kebersihan
dan ketertiban di sekitar area Jembatan Merah.
Di sekitarnya pun, kantungkantung tempat tinggal, pada zaman dahulu,
dibuat terpisah-pisah. Di sebelah barat gedung karesidenan, dulu tinggal
orang-orang Eropa. Di Jalan Kembang Jepun, menjadi area tinggal
orang-orang China dan di sisi utara tepatnya di kawasan Kampung Ampel
berhuni orang-orang keturunan Arab dan Melayu. Praktis, Jembatan Merah
menjadi kawasan multi etnis, yang hingga kini tetap dapat hidup
berdampingan. Saling menghormati satu sama lain. Meski kini hanya
tersisa etnis China di Kembang Jepun dan Arab di kawasan Kampung Ampel
namun terbukti hingga saat ini kedua etnis tersebut dapat hidup
berdampingan tanpa konflik.
Hingga kini, Jembatan Merah masih menjadi pusat bisnis yang menjanjikan.
Karena banyaknya orang yang berlalu lalang, di trotoar Jembatan Merah
kini banyak mangkal para tukang becak yang melepas lelah sambil menunggu
penumpang. Karena semrawut, beberapa polisi sering menertibkan kawasan
tersebut dari para tukang becak. Namun tetap saja meski ditertibkan para
tukang becak masih membandel. Mungkin mereka merasa wilayah tersebut
sudah menjadi lahan rezekinya.
Menjadi pusat bisnis, otomatis banyak pengunjung yang mengunjungi
kawasan Jembatan Merah. Dan tentu saja ada side effect dari fenomena
ini. Di depan Jembatan Merah Plaza terdapat terminal bayangan yang
menjadi tempat mangkal bayangan sejumlah mikrolet dan bus kota. Hal ini
tentu saja menyebabkan ruas jalan menjadi sering macet. Pemkot pun
bekerjasama dengan beberapa pihak sudah berupaya untuk menertibkan
kawasan ini. Kondisinya sekarang pun sudah lumayan, meski masih ada
mikrolet dan bus kota yang nekat mangkal namun suasananya sudah tak
separah dulu. Namun upaya penertiban itu tak akan pernah berhenti.
Meski sedikit banyak beberapa gedung di sekitar Jembatan Merah sudah
berubah, namun ada beberapa bangunan yang masih terawat dengan baik dan
masih terjaga keasliannya. Bangunan ini kini menjadi tempat beberapa
perkantoran yang menjaga keaslian bentuk bangunan. Diantaranya adalah
Perusahaan Asuransi Fa.Froser Eaton & Co yang dibangun sejak 1911
dan kini digunakan oleh PT Persero Asuranasi Jiwasraya. Hotel Ibis juga
tetap tampil menawan meski ada beberapa tambahan di bagian depan
bangunan asli. Gedung Internationale Credit en Handelvereeniging
Rotterdam (Internatio) yang dibangun pada tahun 1929 kini juga masih
berdiri megah dan dijadikan kantor PT Tjipta Niaga.
Kepengurusan Baru TP PKK Kota Surabaya
Full Spirit!
Seiring dengan habisnya masa bakti kepengurusan TP PKK Kota Surabaya masa bakti 2005- 2010, tepatnya 27 Oktober 2010 lalu, Walikota Surabaya Tri Rismaharini melantik pengurus TP PKK Kota Surabaya masa bakti 2010-2015 di Graha Sawunggaling Pemkot Surabaya. Bisa dibilang kepengurusan baru ini ibarat stok lama rasa baru. Meskipun demikian TP PKK Kota Surabaya optimis, pengurus lama yang kini dipercaya menjadi pengurus TP PKK Kota Surabaya 2010-2015 memiliki semangat yang baru dalam pengabdiannya.
Program-program yang sudah pernah dilakukan sebelumnya pun memiliki peluang besar untuk dilanjutkan dan diperbaiki hingga maksimal. ”Pada dasarnya program-program yang kita rencanakan tahun ini merupakan kelanjutan dari program-program yang tahun kemarin. Agenda-agenda masih relatif sama namun tentu periode kedua ini punya peluang besar untuk mengoptimalkan kinerja kami,”ungkap Dyah Katarina, Ketua TP PKK Kota Surabaya periode 2010-2015 saat ditemui di Kantor PKK Kota Surabaya, Jl.Tambaksari. Jika ditinjau lebih teliti, komposisi pengurus TP PKK Kota Surabaya periode ini hanya mengalami sedikit perbedaan. Tahun ini ketua TP PKK Kota
Surabaya diduduki oleh Dyah Katarina Bambang DH, istri wakil walikota Surabaya. Sebelumnya Dyah sudah berpengalaman menjabat posisi yang sama pada kepengurusan sebelumnya, ketika Bambang DH masih menjabat sebagai Walikota Surabaya. Karena walikota kali ini dijabat oleh seorang wanita, maka Ketua TP PKK Kota Surabaya pun akhirnya diemban oleh istri wakil walikota.
Pada posisi wakil ketua TP PKK Kota Surabaya, mengalami sedikit perbedaan. Jika dulu ada wakil ketua I, kini jabatan wakil Ketua 1 itu sudah tidak ada diganti posisi wakil ketua saja. Untuk periode 2010-2015 ini wakil ketua PKK Kota Surabaya masih menempatkan Dra. Merdi Juretta Mursyam, Apt sebagai Wakil Ketua PKK Kota Surabaya. Di posisi bendahara, akan dikelola oleh Ny.Antin K.Hari. Sedangkan ketua pokja I yang biasanya mengurusi implementasi penghayatan pancasila dan gotong royong akan dipimpin oleh Dra. Rupiyati Mudzakir, MM. Kemudian, Ny.Siti Fatukhah Kasbunadi dipercaya untuk memimpin pokja II. Sedangkan Pokja III dikelola langsung oleh Tin Martini sedangkan pokja IV diketuai oleh Ny.Maryuli Sudaryo. Ibu Sudaryo ketua Pokja IV ini adalah salah satu kader PKK yang cukup senior namun tetap eksis dan energik mengabdi di PKK.
Salah satu program PKK yang diadakan pada bulan Oktober-Nopember selain Jalan Sehat dalam rangka pencanangan kesatuan gerak PKK, KB, Kesehatan adalah program LP3. Wakil Ketua PKK, Merdi Juretta mengatakan LP3 ini merupakan program Latihan Pengelola Porgram Penyuluhan bagi tim penggerak PKK. Pada tanggal 22 Nopember hingga 25 Nopember lalu melatih para kader PKK terutama ibu istri para camat dan sekretaris PKK kecamatan untuk memberikan pemahamannya mengenai 10 program pokok PKK. ”Sebagai seorang kader PKK sudah seharusnyalah para kader di tingkat kecamatan ini sudah memahami sepuluh program PKK. Dengan demikian dalam mengimplementasikan program- programnya mereka akan selalu berpatok pada sepuluh program ini,” jelas Ny. Merdi Juretta Mursyam. Sepuluh program PKK ini meliputi penghayatan dan pengalaman Pancasila, gotong royong, sandang, pangan, tata perumahan dan tata laksana RT.
Selain itu juga ada pendidikan dan keterampilan, kesehatan, pengembangan kehidupan berkoperasi, kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat. Dalam kegiatan LP3 ini, ada sembilan narasumber yang dilibatkan. Sebab materi pelatihannya memang bermacam-macam. Tujuannya tentu agar kader kecamatan ini mempunyai bekal dan lebih siap jika berhadapan dengan masyarakat. Materi-materi yang diberikan meliputi pelatihan komunikasi, andragogi, teknik berbicara pada masyarakat, serta pelatihan manajemen dan kepemimpinan. Selain program LP3 untuk para kader kecamatan, pada kepengurusan 2010-2015 ini TP PKK Kota Surabaya akan mencoba mengembangkan satu potensi khas daerah yaitu batik Semanggi. Dyah Katarina, Ketua TP PKK Kota Surabaya mengatakan potensi batik Semanggi ini cukup bagus. Batik dengan motif semanggi ini diharapkan akan mampu menjadi tren dan menjadi salah satu ciri khas kota Surabaya selain batik mangrove.
Batik semanggi ini memang cukup unik. Motifnya menggunakan motif daun semanggi. Bagi warga Surabaya, motif semanggi ini tentu tidak asing. Karena warga Surabaya cukup mengenal kelezatan daun semanggi yang sering dibuat sebagai campuran pecel, sehingga disebut pecel semanggi. Makanan khas Surabaya yang memiliki bentuk daun unik ini menginspirasi kader PKK di Sememi untuk mengkreasikan motif daun unik ini ke dalam batik.
Dana untuk pengembangan batik Semanggi ini berasal dari dana hasil lomba kelurahan berhasil tingkat propinsi yang dimenangkan oleh Kelurahan Rungkut Menanggal. Hadiah itu senilai 37 juta. Dana ini kemudian dikelola oleh PKK, 20 % untuk kegiatan sosial, 80 % untuk penguatan ekonomi masyarakat. Masyarakat Sememi dipilih untuk mengembangkan batik Semanggi, sebab kader PKK di keluarahan setempat memang memiliki potensi yang cukup bagus untuk membatik, khususnya membuat batik semanggi. Selain itu Sememi merupakan keluarahan yang berhasil menang dalam lomba sepuluh terbaik 10 program PKK.
”Beberapa waktu lalu ada salah satu bank yang berminat untuk menjadi istilahnya orang tua asuh bagi para pembatik semanggi ini. Mudahmudahan kerjasama ini nantinya bisa kita tindak lanjuti,”ujar Dyah. Beberapa waktu lalu dua orang kader juga sudah dikirim ke Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta untuk mengikuti training membatik. Selain mengikuti training, para pengrajin ini juga akan diberikan pelatihan kewirausahaan. Pangsa pasar pertama yang akan menjadi sasaran nantinya adalah internal PKK terlebih dahulu. Nantinya sudah berkembang akan dicoba untuk dipasarkan ke masyarakat luas. ”Saya berharap batik semanggi ini mampu menjadi salah satu ciri khas kota Surabaya. Bisa menjadi buah tangan atau oleh-oleh para pelancong yang datang ke Surabaya. Sebab kita kini tak hanya memiliki batik mangrove tapi juga batik semanggi,” jelas Dyah.
Juara Umum Porkot 2010
Bentuk Tim Khusus Pantau Potensi Warga
Bentuk Tim Khusus Pantau Potensi Warga
Kecamatan Gubeng berhasil menjadi juara umum porkot 2010, mereka berhasil menjadi juara I cabang olahraga (cabor) tenis meja dan juara I cabor futsal. Hasil tersebut sama-sama ditorehkan kecamatan bubutan, karena kecamatan bubutan hanya mengikuti 4 cabor sedangkan Gubeng mengikuti 5 cabor yang dipertandingkan. Keberhasilan yang diraih kontingen kecamatan Gubeng berkat kepanitian yang dibentuk kecamatan Gubeng. Hal tersebut diakui Camat Gubeng, Imam Siswandi bahwa sebelum porkot berlangsung pihaknya bersama lurah-lurah diwilayahnya membentuk kepanitian untuk suksesi porkot 2010.
Hasilnya, kepanitian beranggotakan warga Gubeng yang benar-benar peduli olahraga mampu menunjukkan kinerjanya dengan menyumbangkakn juara umum porkot 2010. Menurut Imam pembentukan panitia ini untuk mengetahui potensi warga Gubeng yang benar-benar punya potensi di cabor yang dipertandingkan. “Panitia ini kan secara langsung bersinggungan dengan warga, jadi mereka melakukan seleksi terlebih dulu. Selanjutnya setelah mendapatkan pemain, dilakukan semacam pusat pelatihan, mereka dilatiah dan bertanding dengan pelatih cabor yang dipertandingkan, tapi mereka dari Gubeng sendiri.
Kedepan untuk mempertahankan juara umum porkot 2010, kecamatan Gubeng akan menggelar turnamen tingkat kecamatan. Diselenggarakannya turnamen ini untuk mengtehui potensi-potensi warga Gubeng terhadap olahraga. Hal ini akan lebih mempermudah dan cepat mengetahui potensi warga sesuai cabor yang dipertandingkan. “Pada saat melakukan persiapan porkot 2010 untuk cabor tenis meja sampai-sampai ditemukan mantan atlet pelatnas dan pelatda. Karena aturan mereka tidak bisa bertanding, namun mereka menularkan ilmunya,” imbuh Imam.
Keberhasilan Gubeng menorehkan prestasi juara umum di porkot 2010 tak luput dari motivasi yang diberikan Imam selaku camat. Hampir setiap akan bertanding para atlet ini dikumpulkan lalu di pompa semangatnya. Dia juga selalu mengingatkan untuk bertanding sportif dan jangan tawuran. “Masyarakat Gubeng semuaya sangat suka berolahraga, makanya kita tidak kesulitan mencari pemain. Kecamatan hanya tinggal mendukung secara moril dan materi. Seperti cabor futsal, kita selalu ganti kostum baru setiap akan baetanding. Hal sekecil tersebut ternyata mampu merangsang semangat anak-anak untuk menang. Saya juga tidak pernah memberikan tekanan kepada mereka dengan kata-kata harus menang, sebab tekanan seperti itu menjadi beban dan mengganggu konsentrasi setiap pemain,” pungkasnya.
Tidak hanya potensi yang dimiliki kecamatan Gubeng, sarana dan prasarana yang memadai juga turut andil dalam keberhasilan Gubeng merai juara umum porkot 2010. “Di kecamatan Gubeng hampir di setiap RW memiliki lapangan olahraga, seperti lapangan bulutangkis tenis meja dan sebagainya,” ujarnya. Menurut Imam dilaksanakannya porkot 2010 ini sangatlah positif, dapat mengurangi prilaku negative bagi warga Gubeng khususnya dan Surabaya. “Sangat positif kegiatan semcam ini, biar anakanak muda di Gubeng tidak mudah terjerumus narkoba dan lainnya,” imbuhnya.
Imam menambahkan hadiah berupa yang didapat pemain secara langsung diberikan kepada setiap pemain yang bersangkutan. “Uang tunai yang diperolah kita berikan kepada pemain, untuk futsal karena pemainnya banyak kcamatakan sedang mengupayakan bonus tambahan,” katanya. Supaya bibit-bibit atlet di Surabaya bertambah banyak, dia mengaharapkan turnamen atau pekan olahraga semacam ini terus diadakan tiap tahun. “Dengan begitu apa yang selama ini diimpikan pemkot menjadikan kota Surabaya kota atlet akan lebih cepat terwujud,” harapnya menutup pembicaraan.
Saleh dan Malu
Dikutip dari Buku Kang Sejo Melihat Tuhan
oleh Mohammad Sobary
oleh Mohammad Sobary
Beruntung, saya pernah mengenal
tiga orang saleh. Ketiganya
tinggal di daerah yang berbeda,
sikap dan pandangan agamis
mereka berbeda, dan jenis kesalehan
mereka pun berbeda.
Saleh pertama di Klender, orang
Betawi campuran Arab. Ia saleh, semata
karena namanya. Orang menyukainya
karena ia aktif siskamling meskipun bukan
pada malam-malam gilirannya.
Orang kedua, Haji Saleh Habib Farisi,
orang Jawa. Agak aneh memang, Habib
Farisi sebuah nama Jawa. Tapi ia saleh
dalam arti sebenarnya. Minimal kata para
anggota jamaah masjid kampung itu.
Jenggotnya panjang. Pici putihnya tak
pernah lepas. Begitu juga sarung plekat
abu-abu itu. Tutur katanya lembut, seperti
Mas Danarto. Ia cekatan memberi senyum
kepada orang lain. Alasannya: “senyum itu
sedekah”.
Kepada anak kecil, ia sayang. Hobinya mengusap kepala bocah-bocah yang selalu berisik pada saat salat jamaah berlangsung. Usapan itu dimaksudkan agar anak-anak tak lagi bikin gaduh. Tapi bocah tetap bocah. Biar seribu kali kepala diusap, ribut tetap jalan. Seolah mereka khusus dilahirkan buat bikin ribut di masjid.
“Ramai itu baik saja,” katanya sabar, (ketika orang-orang lain pada marah), “karena ramai tanda kehidupan,” katanya lagi. “Lagi pula, kita harus bisa salat khusyuk dalam keramaian itu.” Mungkin ia benar. Buktinya ia betah berjam-jam zikir di masjid. Sering salatnya sambung-menyambung tanpa terputus kegiatan lain. Selesai magrib, ia tetap berzikir sambil kepalanya teranggukangguk hingga isya tiba.
Jauh malam, ketika semua orang masih lelap dalam mimpi masing-masing, ia sudah mulai salat malam. Kemudian zikir panjang sampai subuh tiba. Selesai subuh, ia zikir lagi, mengulang-ulang asmaul husna dan beberapa ayat pilihan sampai terbit matahari, ketika salat duha kemudian ia lakukan. Pendeknya, ia penghuni masjid. Tidurnya cuma sedikit. Sehabis isya, ia tidur sekitar dua jam. Kemudian, selesai salat duha, tidur lagi satu jam. Selebihnya zikir, zikir, zikir…. Pas betul dengan namanama yang disandangnya. Dasar sudah saleh, plus Habib (nama sufi besar), ditambah Farisi (salah seorang sahabat Nabi).
Kalau kita sulit menemui pejabat karena banyak acara, kita sulit menemui orang Jawa ini karena ibadahnya di masjid begitu padat. Para tetangga menaruh hormat padanya. Banyak pula yang menjadikannya semacam idola. Namun, ia pun punya kekurangan. Ada dua macam cacat utamanya. Pertama, kalau dalam salat jamaah tak ditunjuk jadi imam, ia tersinggung. Kedua, kalau orang tak sering “sowan” ke rumahnya, ia tidak suka karena ia menganggap orang itu telah mengingkari eksistensinya sebagai orang yang ada di “depan”.
“Apakah ia dengan demikian aktif di masjid karena ingin menjadi tokoh?” Hanya Tuhan dan ia yang tahu. Pernah saya berdialog dengannya, setelah begitu gigih menanti zikirnya yang panjang itu selesai. Saya katakan bahwa kelak bila punya waktu banyak, saya ingin selalu zikir di masjid seperti dia. Saya tahu, kalau sudah pensiun, saya akan punya waktu macam itu. “Ya kalau sempat pensiun,” komentarnya. “Maksud Pak Haji? Memangnya kita tahu berapa panjang usia kita? Memangnya kita tahu kita bakal mencapai usia pensiun?” “Ya, ya. Benar, Pak Haji,” saya merasa terpojok
“Untuk mendapat sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga?” “Benar, Pak Haji. Orang memang sibuk mengejar dunia.” “Itulah. Cari neraka saja mereka. Maka, tak bosan-bosan saya ulang nasihat bahwa orang harus salat sebelum disalatkan.” Mungkin tak ada yang salah dalam sikap Pak Haji Saleh. Tapi kalau saya takut, sebabnya kira-kira karena ia terlalu menggarisbawahi “ancaman”. Saya membandingkannya dengan orang saleh ketiga. Ia juga haji, pedagang kecil, petani kecil, dan imam di sebuah masjid kecil. Namanya bukan Saleh melain - kan Sanip. Haji Sanip, orang Betawi asli. Meskipun ibadahnya (di masjid) tak seperti Haji Saleh, kita bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa salatnya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfar (mohon ampun), ia bilang bahwa ia tak ingin minta aneh-aneh. Ia malu kepada Allah. “Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?”
“Itu betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya kan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari nyadong berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Allah memang mahapemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan?” katanya. Bergetar saya. Untuk pertama kalinya saya merasa malu hari itu. Seribu malaikat, nabi-nabi, para wali, dan orang-orang suci –langsung di bawah komando Allah– seperti serentak mengamini ucapan orang Betawi ini. “Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. Allah kita puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena kita memang harus menyembah, seperti tekad Al Adawiah itu,” katanya lagi. Napas saya sesak. Saya tatap wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda ketuaan itu terpancar ketulusan iman. Kepada saya, Kong Haji itu jadinya menyodorkan sebuah cermin. Tampak di sana, wajah saya retak-retak. Saya malu melihat diri sendiri. Betapa banyak saya telah meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi. Mental korup dalam ibadah itu, ternyata, bagian hangat dari hidup pribadi saya juga.
Kepada anak kecil, ia sayang. Hobinya mengusap kepala bocah-bocah yang selalu berisik pada saat salat jamaah berlangsung. Usapan itu dimaksudkan agar anak-anak tak lagi bikin gaduh. Tapi bocah tetap bocah. Biar seribu kali kepala diusap, ribut tetap jalan. Seolah mereka khusus dilahirkan buat bikin ribut di masjid.
“Ramai itu baik saja,” katanya sabar, (ketika orang-orang lain pada marah), “karena ramai tanda kehidupan,” katanya lagi. “Lagi pula, kita harus bisa salat khusyuk dalam keramaian itu.” Mungkin ia benar. Buktinya ia betah berjam-jam zikir di masjid. Sering salatnya sambung-menyambung tanpa terputus kegiatan lain. Selesai magrib, ia tetap berzikir sambil kepalanya teranggukangguk hingga isya tiba.
Jauh malam, ketika semua orang masih lelap dalam mimpi masing-masing, ia sudah mulai salat malam. Kemudian zikir panjang sampai subuh tiba. Selesai subuh, ia zikir lagi, mengulang-ulang asmaul husna dan beberapa ayat pilihan sampai terbit matahari, ketika salat duha kemudian ia lakukan. Pendeknya, ia penghuni masjid. Tidurnya cuma sedikit. Sehabis isya, ia tidur sekitar dua jam. Kemudian, selesai salat duha, tidur lagi satu jam. Selebihnya zikir, zikir, zikir…. Pas betul dengan namanama yang disandangnya. Dasar sudah saleh, plus Habib (nama sufi besar), ditambah Farisi (salah seorang sahabat Nabi).
Kalau kita sulit menemui pejabat karena banyak acara, kita sulit menemui orang Jawa ini karena ibadahnya di masjid begitu padat. Para tetangga menaruh hormat padanya. Banyak pula yang menjadikannya semacam idola. Namun, ia pun punya kekurangan. Ada dua macam cacat utamanya. Pertama, kalau dalam salat jamaah tak ditunjuk jadi imam, ia tersinggung. Kedua, kalau orang tak sering “sowan” ke rumahnya, ia tidak suka karena ia menganggap orang itu telah mengingkari eksistensinya sebagai orang yang ada di “depan”.
“Apakah ia dengan demikian aktif di masjid karena ingin menjadi tokoh?” Hanya Tuhan dan ia yang tahu. Pernah saya berdialog dengannya, setelah begitu gigih menanti zikirnya yang panjang itu selesai. Saya katakan bahwa kelak bila punya waktu banyak, saya ingin selalu zikir di masjid seperti dia. Saya tahu, kalau sudah pensiun, saya akan punya waktu macam itu. “Ya kalau sempat pensiun,” komentarnya. “Maksud Pak Haji? Memangnya kita tahu berapa panjang usia kita? Memangnya kita tahu kita bakal mencapai usia pensiun?” “Ya, ya. Benar, Pak Haji,” saya merasa terpojok
“Untuk mendapat sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga?” “Benar, Pak Haji. Orang memang sibuk mengejar dunia.” “Itulah. Cari neraka saja mereka. Maka, tak bosan-bosan saya ulang nasihat bahwa orang harus salat sebelum disalatkan.” Mungkin tak ada yang salah dalam sikap Pak Haji Saleh. Tapi kalau saya takut, sebabnya kira-kira karena ia terlalu menggarisbawahi “ancaman”. Saya membandingkannya dengan orang saleh ketiga. Ia juga haji, pedagang kecil, petani kecil, dan imam di sebuah masjid kecil. Namanya bukan Saleh melain - kan Sanip. Haji Sanip, orang Betawi asli. Meskipun ibadahnya (di masjid) tak seperti Haji Saleh, kita bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa salatnya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfar (mohon ampun), ia bilang bahwa ia tak ingin minta aneh-aneh. Ia malu kepada Allah. “Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?”
“Itu betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya kan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari nyadong berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Allah memang mahapemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan?” katanya. Bergetar saya. Untuk pertama kalinya saya merasa malu hari itu. Seribu malaikat, nabi-nabi, para wali, dan orang-orang suci –langsung di bawah komando Allah– seperti serentak mengamini ucapan orang Betawi ini. “Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. Allah kita puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena kita memang harus menyembah, seperti tekad Al Adawiah itu,” katanya lagi. Napas saya sesak. Saya tatap wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda ketuaan itu terpancar ketulusan iman. Kepada saya, Kong Haji itu jadinya menyodorkan sebuah cermin. Tampak di sana, wajah saya retak-retak. Saya malu melihat diri sendiri. Betapa banyak saya telah meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi. Mental korup dalam ibadah itu, ternyata, bagian hangat dari hidup pribadi saya juga.
Peranan perempuan di bidang ekonomi tidak lagi
dipandang sebelah mata. Para perempuan di Surabaya
mulai belajar untuk lebih mandiri dalam meningkatkan perekonomian keluarga melalui pembentukan kelompok
usaha mikro - kecil dan menengah (UMKM) perempuan. Dimana harapan akan UMKM yang dilaksanakan oleh
perempuan Surabaya dapat lebih mandiri dan menjadi salah satu pilar dalam mendukung kekuatan ekonomi.
mulai belajar untuk lebih mandiri dalam meningkatkan perekonomian keluarga melalui pembentukan kelompok
usaha mikro - kecil dan menengah (UMKM) perempuan. Dimana harapan akan UMKM yang dilaksanakan oleh
perempuan Surabaya dapat lebih mandiri dan menjadi salah satu pilar dalam mendukung kekuatan ekonomi.
Untuk mewujudkan perempuan Surabaya yang mandiri Pemerintah Kota
Surabaya bersama PT HM
Sampoerna Tbk menyelenggarakan
Festival Kampoeng Soerabaya.
Kegiatan ini merupakan puncak acara
Untukmu Surabayaku 2010 dengan
tema “Pahlawan Ekonomi Surabaya”,
pada 18 Desember 2010 di halaman
Taman Surya Surabaya, juga sebagai
wadah pembentukan karektrisasi dan
inspirasi para perempuan mandiri
dalam mengelola usahanya.
Dilaksanakannya Festival Kampoeng Soerabaya untuk memberikan penghargaan bagi prempuan yang mandiri dan memiliki motivasi supaya menjadi wirausaha yang sukses. Serta memberikan kesempatan pada perempuan untuk memperluas jaringan sesama pelaku di sektor usaha mikrokecil dan menengah di kota Surabaya. Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan pemenang kelompok UMKM perempuan terbaik. Para pemenang ini akan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan terpadu di pusat pelatihan kewirausahaan Sampoerna Sukorejo. Produk-produk UMKM dari peserta juga turut dipamerkan pada acara malam puncak Pahlawan Ekonomi Surabaya yang diikuti 91 kelompok UMKM dari 31 Kecamatan di Surabaya.
Produk UMKM yang dipamerkan disesuaikan dengan kategori yang dilombakan. Produk tersebut diantaranya makanan dan minuman kemasan (groceries food), makanan dan minuman segar (fresh food), serta kerajinan tangan (handycraft). Banyaknya produk yang dipamar - kan pada kegiatan ini menunjukkan bahwa para perempuan di Surabaya cukup kreatif mengikuti UMKM, karena dengan mengkuti UMKM diharapkan dapat membantu dalam mengelola wirausaha.
Untuk menentukan pemenang nya juri memberikan kriteria penilaian yang ditekankan pada keseha tan, dampak lingkungan, keterlibatan komunitas. Penilaian tersebut masih harus ditunjang dengan inovasi dalam penjualan serta stand. Disamping itu alat peraga yang digunakan mampu menarik pembeli serta mencantum kan tanggal kadaluarasa. Penilaian dewan juri ini dilakukan sejak tanggal 2 November sampai 18 Desember 2010.
Menurut Yos A Ginting Direktur PT HM Sampoerna Tbk, kegiatan Untukmu Surabayaku Pahlawan Ekonomi 2010 ini, merupakan suatu sarana untuk pembekalan para pe rempuan dalam menggali wawasan dan pembelajaran langsung guna mengelola wirausaha yang mandiri. Disamping itu para peserta diharapkan dapat membuka
jaringan usaha yang terpadu dengan sesama UMKM serta mampu menigkatkan motivasi untuk menjawab tantangan dunia usaha di masa mendatang.
“Acara ini merupakan sebuah program terpadu hasil sinergi Pemerintah Kota Surabaya dengan PT HM Sampoerna Tbk yang mempunyai komitmen mendukung dan mengembangkan komunitas usaha mikro – kecil ibu-ibu rumah tangga yang tersebar di Kota Surabaya yang dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Hal ini sejalan dengan komitmen kami dalam memberikan kontribusi yang positif di wilayah-wilayah tempat operasional kami berada, khususnya dibidang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pencitraan wirausaha-irausaha lokal,” terang Yos.
Dalam kesempatan yang sama, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, setelah ditentukan pemenang Pahlawan Ekonomi Surabaya ini, bukan berarti akhir dari perjalanan untuk mengangkat kesejahteraan dan meningkatkan perekonomian para UMKM di Surabaya. “Ini baru permulaan untuk menuju ke sana. Dengan adanya program ini saya berharap dapat men jadi kekuatan ekonomi baru di Surabaya. Saya juga yakin produk-produk yang dihasilkan UMKM mampu bersaing dengan produk lainnya,” urai Risma optimis.
Untuk tahun 2010 ini setiap kecamatan mengirimkan 3 perwakilannya dalam kegiatan tersebut. Namun pada tahun depan setiap kelurahan harus mengirimkan 3 perwakilannya. “Kalau memungkinkan tahun berikutnya setiap RW mengirimkan 3 UMKMnya. Dengan semakin banyak UMKM yang ikut, maka kita bisa mengajak mereka untuk bersaing dengan produk- produk pasar modern,” harapnya. Risma mengungkapkan bahwa mimpi untuk mewujudkan setiap RW memiliki usaha sudah ada sejak tahun 2008, sebelum dia menjadi orang nomor satu di Surabaya. “Ada beberapa hal yang harus dilakukan yakni mempertahankan motivasi dari UMKM itu sendiri. Diantaranya adalah menekankan dan memotivasi pada diri sendiri, bahwa kita mampu menciptakan produk-produk yang tak kalah dengan produk-produk lainnya,” ungkapnya.
Tri Rismaharini sangat menyambut baik rangkaian program Pahlawan Ekonomi Surabaya 2010 yang berlangsung lebih dari satu bulan lamanya. “Pelaku UMKM ini harus manjadi tuan dan nyonya di kota sendiri. Mereka layak menyandang pahlawan yang dibutuhkan Kota Surabaya masa kini. Pahlawan ekonomi untuk memerangi kemiskinan,” imbuhnya.
Roadshow Pahlawan Ekonomi
Surabaya 2010Dilaksanakannya Festival Kampoeng Soerabaya untuk memberikan penghargaan bagi prempuan yang mandiri dan memiliki motivasi supaya menjadi wirausaha yang sukses. Serta memberikan kesempatan pada perempuan untuk memperluas jaringan sesama pelaku di sektor usaha mikrokecil dan menengah di kota Surabaya. Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan pemenang kelompok UMKM perempuan terbaik. Para pemenang ini akan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan terpadu di pusat pelatihan kewirausahaan Sampoerna Sukorejo. Produk-produk UMKM dari peserta juga turut dipamerkan pada acara malam puncak Pahlawan Ekonomi Surabaya yang diikuti 91 kelompok UMKM dari 31 Kecamatan di Surabaya.
Produk UMKM yang dipamerkan disesuaikan dengan kategori yang dilombakan. Produk tersebut diantaranya makanan dan minuman kemasan (groceries food), makanan dan minuman segar (fresh food), serta kerajinan tangan (handycraft). Banyaknya produk yang dipamar - kan pada kegiatan ini menunjukkan bahwa para perempuan di Surabaya cukup kreatif mengikuti UMKM, karena dengan mengkuti UMKM diharapkan dapat membantu dalam mengelola wirausaha.
Untuk menentukan pemenang nya juri memberikan kriteria penilaian yang ditekankan pada keseha tan, dampak lingkungan, keterlibatan komunitas. Penilaian tersebut masih harus ditunjang dengan inovasi dalam penjualan serta stand. Disamping itu alat peraga yang digunakan mampu menarik pembeli serta mencantum kan tanggal kadaluarasa. Penilaian dewan juri ini dilakukan sejak tanggal 2 November sampai 18 Desember 2010.
Menurut Yos A Ginting Direktur PT HM Sampoerna Tbk, kegiatan Untukmu Surabayaku Pahlawan Ekonomi 2010 ini, merupakan suatu sarana untuk pembekalan para pe rempuan dalam menggali wawasan dan pembelajaran langsung guna mengelola wirausaha yang mandiri. Disamping itu para peserta diharapkan dapat membuka
jaringan usaha yang terpadu dengan sesama UMKM serta mampu menigkatkan motivasi untuk menjawab tantangan dunia usaha di masa mendatang.
“Acara ini merupakan sebuah program terpadu hasil sinergi Pemerintah Kota Surabaya dengan PT HM Sampoerna Tbk yang mempunyai komitmen mendukung dan mengembangkan komunitas usaha mikro – kecil ibu-ibu rumah tangga yang tersebar di Kota Surabaya yang dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Hal ini sejalan dengan komitmen kami dalam memberikan kontribusi yang positif di wilayah-wilayah tempat operasional kami berada, khususnya dibidang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pencitraan wirausaha-irausaha lokal,” terang Yos.
Dalam kesempatan yang sama, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, setelah ditentukan pemenang Pahlawan Ekonomi Surabaya ini, bukan berarti akhir dari perjalanan untuk mengangkat kesejahteraan dan meningkatkan perekonomian para UMKM di Surabaya. “Ini baru permulaan untuk menuju ke sana. Dengan adanya program ini saya berharap dapat men jadi kekuatan ekonomi baru di Surabaya. Saya juga yakin produk-produk yang dihasilkan UMKM mampu bersaing dengan produk lainnya,” urai Risma optimis.
Untuk tahun 2010 ini setiap kecamatan mengirimkan 3 perwakilannya dalam kegiatan tersebut. Namun pada tahun depan setiap kelurahan harus mengirimkan 3 perwakilannya. “Kalau memungkinkan tahun berikutnya setiap RW mengirimkan 3 UMKMnya. Dengan semakin banyak UMKM yang ikut, maka kita bisa mengajak mereka untuk bersaing dengan produk- produk pasar modern,” harapnya. Risma mengungkapkan bahwa mimpi untuk mewujudkan setiap RW memiliki usaha sudah ada sejak tahun 2008, sebelum dia menjadi orang nomor satu di Surabaya. “Ada beberapa hal yang harus dilakukan yakni mempertahankan motivasi dari UMKM itu sendiri. Diantaranya adalah menekankan dan memotivasi pada diri sendiri, bahwa kita mampu menciptakan produk-produk yang tak kalah dengan produk-produk lainnya,” ungkapnya.
Tri Rismaharini sangat menyambut baik rangkaian program Pahlawan Ekonomi Surabaya 2010 yang berlangsung lebih dari satu bulan lamanya. “Pelaku UMKM ini harus manjadi tuan dan nyonya di kota sendiri. Mereka layak menyandang pahlawan yang dibutuhkan Kota Surabaya masa kini. Pahlawan ekonomi untuk memerangi kemiskinan,” imbuhnya.
Kegiatan Untukmu Surabayaku “Pahlawan Ekonomi Surabaya 2010” diperkenalkan pertama pada tanggal 10 Nopember 2010 oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dan direktur PT HM Sampoerna Tbk, Yos A Ginting melalui penandatanganan nota kesepahaman untuk meluncurkan progam pemberdayaan ekonomi masyarakat “Pahlawan Ekonomi Surabaya”, yang merupa kan bentuk komitmen bersama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan PT HM Sampoerna Tbk guna mendorong pengembangan potensi kelompok usaha mikro-kecil perempuan di Surabaya. Rangkaian acara pahlawan ekonomi Surabaya 2010 dilakukan secara rodshow. Kegiatan roadshow diawali di kecamatan Gununganyar, pada 10 Desember 2010 yang secara resmi dibuka oleh Walikota Suabaya, Tri Rismaharini.
Selanjutnya Walikota Surabaya mengunjungi kecamatan-kecamatan yang ditunjuk sebagai tempat roadshow di wilayahnya. Dalam kegiatan roadshow ini, setiap kecamatan memperkenalkan potensi UMKM perempuan yang ada di wilayah masing-masing dengan mengirimkan 3 perwakilannya. Rangkaian kegiatan roadshow “Pahlawan Ekonomi Surabaya 2010” ini berlangsung di lima kecamatan yaitu Kecamatan Gununganyar, Kecamatan Wiyung, Kecamatan Kenjeran, Kecamatan Tandes, dan Kecamatan Rungkut. Setiap roadshow yang dilakukan pihak kecamatan menyajikan acara yang interaktif untuk masyarakat seperti kerasi seni dan audisi kreasi seni. Seperti yang dilakukan Kecamatan Wiyung, saat roadshow mereka menggelar lomba kidungan.
Cangkru'an
BECAK NGGA OLEH MLEBU
Wonokairun sing lagi anyaran nggenjot becak disemprit pulisi. "heii... mbah sampeyan gek ndelok ta iki onok rambu Becak dilarang masuk".
Wonokairun ancen mbecak pas nang jalan sing onok rambu gambar becak dsilang garis ireng,Pulisi iku marani Wonokairun.
"Pak puolisi, aku iki yo ndelok rek.. tapi iku gambar becak kuosong ngga onok wonge. Becakku onok wonge jehhh.. onok sing nggenjot, berarti oleh liwat,"jare Wonokairun ngeyel."Mbah sampeyan nggak ndelok ... gambar iku berarti becak ngga oleh liwat kene!" Jarene Pak Pulisi karo metenteng.
"Guooooooobbbllllloooooog.......... sampeyan opo yo ngga iso moco? Nang ngisore gambar onok tulisanne BECAK DILARANG MASUK", jare pak pulisi maneh."oooooooo..... nggak pak, aku ngga isok moco aku buta huruf. Nek isok moco aku nggak mbecak , aku dadi pulisi ae koyok sampeyan...." jare Wonokairun pringissan
Pemerintah Kota Surabaya tak
tinggal diam ketika
terjadi banjir Surabaya awal
Desember lalu. Bisa dibilang,
banjir yang menggenangi hampir
semua kawasan Surabaya
setinggi lebih dari satu meter
ini membuat hampir seluruh
SKPD beserta stafnya menjadi
super sibuk. Walikota pun tak
segan-segan turun ke lapangan
untuk bersama mencegah banjir
ini tak semakin parah.
Untuk antisipasi banjir,
Pemkot Surabaya sebenarnya
sudah memiliki 34
rumah pompa. Bahkan
rumah pompa ini akan ditambah lagi
sebanyak tiga rumah pompa, yaiturumah pompa Sememi, Greges dan Semolowaru. Tak hanya rumah pompa, pemkot pun sudah menyiagakan sebanyak 150 staf. Mereka adalah petugas dari Bakesbangpol dan linmas yang siap jaga setiap hari. Mereka siap untuk diterjunkan ke kawasan rawan banjir setiap saat. Sebanyak 150 orang tersebut terdiri dari 100 orang hansip dan 50 orang staf yang siap diterjunkan ke lapangan jika sewaktu-waktu genangan air cukup tinggi.
Kewaspadaan mereka akan semakin bertambah jika air laut sedang pasang dan ada banjir kiriman dari hulu. Terlebih curah hujan akhir-akhir ini cukup tinggi seperti yang diramalkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Juanda. Berdasarkan prediksi BMKG Juanda, curah hujan tahun ini memang cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada Desember lalu, saat banjir menggenangi Surabaya, curah hujan mencapai lebih dari 100 milimeter per harinya. Angka itu termasuk kategori curah hujan ekstrim.
Para petugas ini harus waspada setiap saat terutama jika hujan turun dengan lebat. Sejumlah kawasan yang rawan terjadi banjir seperti Jl. Mayjen Sungkono, Simo Jawar, Sukomanunggal, Pakal, Sidotopo, Bulak, Dharmawangsa, Kebonagung pun tak luput dari pantauan mereka. Selain itu kawasan lain seperti Kalirungkut, Kalidami, Wonokromo, Wonocolo, dan Rungkut Sier juga menjadi target pantauan.
Para petugas yang digerakkan tidak hanya semata-mata petugas yang siap diterjunkan jika terjadi banjir namun juga penyiagaan petugas rumah pompa. Tak hanya itu Dinas Bina Marga dan Pematusan juga selalu mengoptimalkan upaya untuk mengeruk endapan pada saluran- saluran air, baik itu got, gorong-gorong maupun sungai. Erna Purnawati, Kepala Dinas Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya mengatakan banjir yang terjadi Desember lalu disebabkan selain karena curah hujan yang diatas rata-rata juga karena dua titik spot yaitu Jagir Wonokromo dan Kali Lamong yang bermasalah. Sedangkan dua titik spot ini bukan wewenang dari Pemerintah Kota Surabaya. Jagir Wonokromo menjadi wewenang dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan Kali Lamong menjadi wewenang dari BBWS Bengawan Solo.
Permasalahan dari dua saluran air tersebut adalah, kawasan sungai Jagir Wonokromo tidak memiliki tanggul yang memadai. Sehingga sungai tidak kuat menampung air hujan dan meluap karena tidak ada tanggul penahannya. Akibatnya banjir pun terjadi. Hal ini kemudian dihadapi oleh Dinas Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya dengan melakukan koordinasi dengan Jasa Tirta dan BBWS Brantas, untuk membuat tanggul sementara sepanjangan setengah kilometer. “Kami telah berkoordinasi dengan Jasa Tirta dan BBWS Brantas untuk membuat tanggul sementara. Tanggul ini sangat penting untuk menahan luapan jika curah hujan tinggi seperti yang terjadi pada banjir Desember,”jelas Erna.
Sedangkan permasalahan yang terjadi di Kali Lamong adalah tingkat sedimentasi atau endapan sudah sangat tinggi. Sungai yang berada di wilayah perbatasan Surabaya dan Gresik ini endapannya sudah mencapai hampir separo dari kapasitas sungai. Sehingga daya tampung dari sungai ini tinggal setengah dari volume sungai. Akibatnya ketika curah hujan cukup tinggi, sungai ini mudah meluap. Apalagi bagian sungai yang melintasi Kota Surabaya cukup panjang, mencapai 13,5 km. Tentu perlu diadakan pengerukan sedimen sebagai upaya normalisasi agar Kali Lamong ini bisa berfungsi optimal. Diakui Erna, saat ini salah satu tugas terberat dari Dinas Bina Marga dan Pematusan addalah mengurangi endapan dengan melakukan pengerukan. Seperti ketika diwawancara Gapura pertengahan Desember lalu, Erna dan tim Pematusan tengah melakukan pengerukan sedimen di saluran air Babadan Rukun. Aliran air yang bermuara di Bozem Morokrembangan ini memang mengalami sedimentasi yang cukup tinggi. Dinas Bina Marga dan Pematusan melakukan pengerukan selama lima hari, mulai 12 Desember hingga 16 Desember 2010. Sebelum melakukan pengerukan, tim pematusan dibantu satpol PP, menertibkan sekitar 200 stan pasar sore yang ada di pinggiran saluran air Babadan Rukun ini. Stan-stan pasar sore ini selain menempati area pinggiran tanggul yang bukan diperuntukkan untuk berjualan, juga merusak keindahan tata kota. Setelah menertibkan 200 stan pasar sore, tim pematusan kemudian melakukan pengerukan di sepanjang saluran air ini dengan dibantu dua alat berat (eskavator) dan sembilan buah truk.
Pengerukan dilakukan sepanjang saluran air hingga ke Rumah Pompa. “Selama lima hari pengerukan, kami berhasil mengangkat 200 rit endapan dari sepanjang saluran air ini,”ujar Erna. Pengerukan endapan memang menjadi pekerjaan rutin yang harus dilakukan oleh tim pematusan. Pernah suatu ketika, walikota Surabaya Tri Rismaharini turun langsung untuk memantau proses pengerukan endapan di saluran bawah jalan raya Dupak Raya. Tim amfibi (sebutan untuk satgas pematusan yang bertugas membersihkan endapan) sempat mengalami kesulitan saat membersihkan sumbatan yang ada di saluran crossing di bawah jalan Dupak Raya ini. Saking solidnya sumbatan, Walikota Tri Rismaharini bahkan sampai mendatangkan mobil Pemadam Kebaran (PMK) untuk menyemprot bawah saluran dengan air tekanan tinggi. Selain di saluran air Babadan Rukun, Pe-Er Dinas Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya masih ada beberapa lagi. Dua diantaranya adalah pengerukan endapan di Sungai Greges dan Sungai Wonorejo yang juga memiliki endapan cukup tinggi. Tahun depan rencananya, untuk memudahkan proses pengerukan endapan ini, Dinas Bina Marga dan Pematusan akan menyewa lima buah eskavator.
Proses pengerukan endapan di Babadan Rukun beberapa waktu lalu juga disaksikan oleh warga masyarakat setempat. Kegiatan ini juga menjadi semacam penyadaran bagi masyarakat sekitar Babadan Rukun agar tidak menganggap sungai sebagai objek mati yang dapat diperlakukan seenaknya. Masyarakat kadang berpikir terlalu sederhana ketika membuang sampah di saluran air atau sungai. Pikirnya dengan membuang sampah di sungai mereka menganggap aliran sungai akan membawa sampah yang mereka buang itu menuju laut. Masyarakat sering lupa bahwa sampah itu bisa berhenti atau nyangkut di suatu tempat dan bisa menghambat aliran air sungai. Akibatnya ketika curah hujan sedang tinggi, sungai tidak bisa menampungnya karena sudah penuh sampah dan akhirnya meluap menggenangi rumah-rumah warga. Erna berharap masyarakat terutama di kawasan di pinggiran aliran sungai menyadari hal ini dan membantu upaya pemerintah dalam melakukan normalisasi fungsi saluran air. Salah satunya dengan mencegah tangan-tangan nakal yang nekat membuang sampah ke sungai. Jika masyarakat bisa mempertahankan komitmennya untuk menjaga sungai, banjir yang sering melanda Surabaya bisa diminimalkan.
Puskesmas Balongsari Teladan
PENGHARGAAN tergadap peran masyarakat dan pelaku di bidang Kebersihan
Lingkungan dan Kesehatan menjadi prioritas program Pemerintah Kota.
Pemerintah Kota Surabaya melalui Bagian Bina Program menyelenggarakan
kegiatan “Surabaya Performance Award (SPA) 2008” bertemakan ”Membangun
Lingkungan Kota yang sehat dengan peran serta masyarakat”.
Pemberian penghargaan yang diberikan kepada beberapa pihak yang dinilai
memberikan unjuk kinerja maksimal di bidang pelayanan kesehatan ini,
dilaksanakan Selasa (23/12) di Ruang Pola Lt.3 Bappeko Surabaya.
Penghargaan itu dimaksudkan untuk mengukur unjuk kinerja pihak-pihak
yang terkait dengan pengelolaan program serta sebagai sistem informasi
yang berfungsi sebagai alat evaluasi kinerja.
Acara ini dihadiri oleh Walikota, para Assisten, seluruh Kepala SKPD dan
Camat se-wilayah Kota Surabaya serta para nominator pemenang. Dalam
sambutannya, Walikota Surabaya Bambang DH mengatakan bahwa penghargaan
seperti ini terbukti dapat memberikan dampak positif dan memotivasi kita
semua untuk bekerja lebih baik, Walikota juga berharap Desember tahun
2009 seluruh SKPD se-lingkungan Kota Surabaya mempersiapkan diri untuk
dinilai.
Penghargaan tersebut meliputi beberapa kategori dengan para pemenang
sebagai berikut : untuk kategori Kader Kesehatan Teladan adalah Ibu Dewi
Sri Insani, Posyandu Teladan adalah Posyandu Wijaya Kusuma (Kelurahan
Manukan Kulon), Puskesmas Teladan adalah Puskesmas Balongsari (Kecamatan
Tandes), Inovasi Institusi Bidang Pelayanan Kesehatan adalah Puskesmas
Balongsari (Poli Paliatif), Inovasi Individu Bidang Pelayanan Kesehatan
adalah Dra. Suci, Wilayah Sehat kategori Kelurahan adalah Kelurahan
Gunungsari (Kecamatan Dukuh Pakis), dan Wilayah Sehat SD adalah SDN
Menanggal 601 Surabaya, Wilayah Sehat SMP adalah SMPN 22 Surabaya,
Wilayah Sehat SMU/K adalah SMKN 1 Surabaya.
Kepala Bagian Bina Program, Agus Imam Soenhaji mengatakan bahwa SPA ini
dilaksanakan dengan harapan agar motivasi bekerja para stakeholder
pembangunan senantiasa meningkat, maka dipandang strategis bila
Pemerintah Kota memberikan apresiasi berupa penghargaan dalam mewujudkan
prioritas APBD di tahun berjalan. Sebagai dewan juri yang terdiri dari
beberapa unsur ini yakni Akademisi/Perguruan Tinggi, yaitu Prof. dr.
Bambang Sektiari (Ketua LPKM/ahli kesehatan masy), Dr. Mustain. MSi
(Dekan Fisip Unair), Lutfi Agus Salim, SKM. MSi (Fak. Kesehatan Masy
Unair) dan Dwi Lesno Panglipusari, serta beberapa SKPD antara lain Dinas
Kesehatan, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dan Bagian Bina Program
Sekretariat Pemkot Surabaya.
Urus Akte Cukup 14 Hari
Pemerintah Kota Surabaya menggodok Raperda Penyelenggaraan Administrasi
Kependudukan. Raperda ini merupakan upaya perbaikan dari perda no.2
tahun 2007.
RAPERDA penyelenggaraan administrasi kependudukan ini disosialisasikan
mulai pertengahan Desember tahun ini. Kepala Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Kota Surabaya, Ismanu, kepada Gapura mengatakan, raperda
ini dikeluarkan dengan tujuan agar pelayanan kepada masyarakat bisa
lebih baik. “Perda ini juga mengatur agar masyarakat lebih disiplin dan
tertib administrasi,” ujar Cak Ismanu.
Misalnya saja untuk pembuatan akte kelahiran. Mulai tahun 2009,
pengurusan akte kelahiran akan dipercepat masa pengurusannya maksimal 14
hari. Jika lebih dari waktu maksimal maka pegawai atau pejabat yang
bersangkutan akan dikenai sanksi. Sanksi yang dikenakan cukup berat.
Menurut Cak Ismanu, pelanggaran waktu pengurusan akte akan dikenai
sanksi maksimal Rp 10 juta. “Saya sebagai kepala Dispendukcapil pun bisa
dituntut jika saya melanggar ketentuan tersebut,” ungkapnya.
Sementar, untuk membuat dokumen kependudukan, pemkot akan menyusun
batasan maksimal penyelesaian dokumen. Batasan waktu ini diperlukan agar
warga memiliki kepastian waktu kapan dokumennya bisa diselesaikan. Ini
juga menjadi salah satu cara ampuh untuk memerangi
pungutan liar dan peluang-peluang mempersulit masyarakat dengan mengulur
waktu pengurusan. Misalnya saja, pengurusan KTP. Masa pengurusan KTP di
Surabaya cukup sehari. Jika lebih dari itu masyarakat bisa melaporan
petugas kepada yang berwenang.
Selain permasalahan masa pengurusan akte kelahiran, Dispendukcapil dalam
waktu dekat juga akan memperketat penduduk musiman yang masuk ke
Surabaya. Masyarakat dari luar kota yang ingin tinggal di Surabaya harus
memiliki penjamin tempat tinggal, seperti misalnya perusahaan yang
memperkerjakan karyawan yang bersangkutan dan menjadi jaminan yang
menampung selama di Surabaya. “Hal itu dilakukan agar mereka tidak akan
jadi pengangguran. Jika ada perusahaan yang menjamin berarti mereka kan
memiliki pekerjaan selama berada di sini,” imbuhnya.
Pembatasan semcam itu juga termasuk dalam salah satu poin di raperda
tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan. Pengetatan ini
dilakukan agar Pemerintah Kota bisa mengetahui dan mendata siapa saja
warga non Surabaya yang tinggal di kota ini. Cak Ismanu menegaskan
sebelum memperbolehkan warga luar Surabaya masuk dan memiliki SKTS atau
surat keterangan tinggal sementara di Surabaya. Warga bersangkutan harus
membawa surat keterangan dari daerah asal. Surat keterangan itu berisi
tujuan selama tinggal di Surabaya, apakah untuk sekolah atau bekerja.
Setelah mempunyai surat keterangan dari desa atau daerah asal, surat
tersebut dibawa ke RT atau RW, tempat warga tersebut tinggal di
Surabaya. Setelah itu RT/RW akan menguruskannya ke Dispendukcapil. Biaya
pembuatan SKTS atau biasa disebut KIPEM ini cukup murah, hanya Rp 7500.
“Jadi tidak ada alasan bagi warga luar Surabaya tidak mempunyai KIPEM
atau SKTS. Sebab, selain biaya administrasinya cukup murah prosedurnya
juga tidak susah,” tambahnya.
Cak Ismanu menegskan, tidak akan segan-segan menindak warga yang tidak
punya identitas. Lebih-lebih kepada warga yang melakukan pelanggaran.
Menurut Cak Ismanu, saat ini, jamak terjadi di masyarakat yang melakukan
pelanggaran dan KTP-nya ditahan di pengadilan. Namun, umumnya malas
untuk menebusnya dan lebih memilih membuat KTP baru. “Nah ini yang harus
diketati. Jangan sampai mereka bisa seperti itu. Pemkot tidak
segan-segan untuk tidak memberikan KTP kepada mereka,” tandas Cak
Ismanu.
Perda harus tajam
Sementara, Walikota Bambang DH yang ditemui usai memberikan sambutan
pada sosialisasi raperda penyelenggaraan tertib administrasi di RM.
Taman Sari mengatakan, ia akan melakukan pemblokiran KTP untuk warga
yang ‘bandel’ seperti itu. “Tapi kita sekali lagi juga harus membuat
perda yang setajam mungkin. Jangan sampai ketika sistem memungkinkan
bisa melakukan pemblokiran namun ada celah di perda yang kurang tajam
membahas aturan pemblokiran tersebut,” ujar suami Dyah Katarina.
Waikota Bambang DH juga menegaskan bahwa pengaturan sanksi bagi pegawai
yang lalai mengerjakan tugasnya tepat waktu sangat penting. Ia meminta
kepada pejabat terkait agar sanksi yang dirumuskan tidak terlalu ringan.
Sebab, jika terlalu ringan dikhawatirkan pegawai akan meremehkan sanksi
tersebut. Cak Bambang mencontohkan sanksi administrasi berupa
peringatan pertama, kedua dan ketiga kurang efektif dan terlalu lama.
“Kalau pelanggarannya ringan sih tidak menjadi masalah peringatan
pertama, kedua dan ketiga.
Namun jika pelanggaran berat, wis ta lah gak usah suwe-suwe langsung
dikenai sanksi yang berat,” tandas Walikota yang dikenal tegas dan
disiplin ini. Sanski itu diharapkan bisa menimbulkan efek jera sehingga
tidak akan diulangi atau ditiru oleh yang lainnya.
Cak Bambang menambahkan dirinya akan selalu berupaya menegakkan
kedisiplinan bagi siapa pun, tak hanya warga namun juga para pegawai
pemkot. “Aturan kan sudah ada. Sudah ada mekanismenya. Tinggal dijalani
dan diikuti. Kalau semua tertib administrasi kan kita juga yang enak.
MAsyarakat pun terjamin dan terlindungi,” ungkapnya.
Pemerintah Kota di bawah kepemimpinan Bambang DH memang senantiasa
berupaya meningkatkan pelayanan termasuk dalam hal tertib administrasi.
Salah satu contohnya melalui sistem sidik jari untuk pembuatan KTP.
Pembangunan Box Cluvert dan Jalan Tembus
MEMASUKI tahun 2009, Pemerintah Kota Surabaya memprioritaskan beberapa
program pemba ngunan. Salah satu yang menjadi target adalah pembangunan
infrastruktur peningkatan kapasitas jalan.
Anggaran infrastruktur dialokasikan sebanding dengan anggaran untuk
kesejahteraan rakyat, seperti; pendidikan, kesehatan, dan pengentasan
kemiskinan. Lebih dari Rp. 1 triliun dialokasikan untuk anggaran
pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Alokasi anggaran pembangunan
dan pengembangan infrastruktur mengalami kenaikan lebih dari 68% dari
tahun sebelumnya.
Anggran infrastruktur dialokasikan untuk pembangunan jalan baru
sepanjang 7,28 km, Box Culvert di Banyu Urip, Semolowaru dan Menur,
serta jalan tembus di Balas Klumprik sepanjang 3,1 km. Sedangkan
Peningkatan terbesar terjadi pada program pengendalian banjir dan
pengamanan pantai yang sekarang menjadi lebih dari Rp. 271 miliar.
Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 170% dari tahun lalu.
Pembangunan Box Culvert
Pembangunan jalan dengan menggunakan teknik Box Culvert di jalan Banyu
Urip mengalami beberapa hambatan diantaranya adalah karena sulitnya
pembebasan lahan disebabkan mahalnya harga tanah. Oleh karena itu
Pembangunan Jalan Banyu Urip menjadi tersendat. Jalan Banyu Urip
merupakan salah satu urat nadi perekonomian karena merupakan penghubung
antara kota Surabaya dan Gresik.
Oleh karena itu, setiap hari selalu terjadi kemacetan, dikarenakan
volume kendaraan > kapasitas jalan banyu urip. Begitu pula dengan
alasan karena masih belum sempurnanya akses dari timur ke barat kota
surabaya. Saluran air Gunung Sari dari saluran irigasi belum menjadi
saluran pematusan. Dampak yang terjadi setelah pembangunan. Setelah
pembangunan Box Culvert, diharapkan kemacetan akan berkurang ( v/c <
0,8 ) terutama di akses koridor timur barat ( Jl. Banyu Urip, Jl.
Indragiri & Jl. Mayjen sungkono). Begitu pula genangan di cacthment
area diversi gunungsari akan semakin berkurang karena telah berfungsinya
saluran Gunungsari sebagai saluran pematusan.
Selain efek tersebut, pembangunan jalan tersebut diharapkan bisa membuka
akses dari timur ke barat. Sehingga semakin bertambahnya laju
pertumbuhan ekonomi kota surabaya. Hal tersebut dikarenakan Jl. Banyu
Urip merupakan salah satu akses menuju kabupaten gresik. Yang
terpenting, sesuai dengan RTRW, daerah Surabaya barat akan semakin
berkembang.
Peningkatan kapasitas jalan di Semolo Waru dikarenakan beberapa sebab.
Yang terutama adalah karena kemacetan yang terjadi di sana. Kemacetan
dikarenakan adanya penyempitan (bottle neck) di Jl. Semolo Waru sisi
barat (sta 0+750). Selain itu juga terjadi kemacetan di persimpangan Jl.
Semolo Waru hingga Jl. Semampir (sisi timur menuju ke jembatan merr Iic
atau sta 0+000). Hal tersebut yang menjadi sebab-sebab perlunya
dibangun jalan tersebut.
Peningkatan kapasitas jalan di Semolowaru dapat meningkatkan
perkembangan perekonomian di kawasan Surabaya timur. Kawasan Surabaya
timur kini juga menjadi semakin berkembang menjadi daerah perekonomian
baru di Surabaya.
Selain itu, jalan ini mampu meningkatkan aksesibilitas kawasan terutama
yang akan menuju ke arah Merr Iic. Ini penting karena Merr IIc ini akan
menghubungkan Surabaya dari utara ke selatan di sisi timurnya.
Peningkatan kapasitas jalan di Menur juga tak kalah pentingnya dengan
Semolo Waru. Ruas jalan Menur ini setiap harinya selalu mengalami
kemacetan dikarenakan adanya penyempitan (bottle neck) di pertigaan Jl.
Pucang Jajar tengah dengan Jl. Menur (sta 0+290).
Selain itu, llingkungan yang kumuh di sepanjang Jl. Menur juga
menyebabkan kemacetan tersendiri. Kumuhnya lingkungan di Jl. Menur
dikarenakan adanya pasar.
Bila box culvert Menur telah terbangun, maka setidaknya akan terwujud
kelancaran lalu lintas di kawasan Surabaya timur. Saat ini, Menur juga
menjadi salah satu jalan yang banyak dilalui oleh mayoritas kendaraan di
Surabaya timur.
Selain itu, masalah bottle neck yang mengakibatkan kemacetan di Jl.
Menur juga teratasi. Karena box culvert akan melebarkan jalan yang
sempit karena kondisi sekarang ini. Disamping itu, pembangunan jalan
tersebut juga menimbulkan efek baik bagi lingkungan. Tertatanya
lingkungan bisa mengatasi masalah kekumuhan yang disebabkan adanya pasar
di sisi timur Jl. Menur.
Sedangkan jalan tembus Balasklumprik dan Wiyung dilaksanakan dengan
maksud untuk memperlancar akses antara Kota Surabaya dan Kabupaten
Gresik. Jalan ini sangat penting untuk kelancaran transportasi untuk
kelancaran perekonomian daerah sekelilingnya.
Pentingnya pembangunan jalan ini adalah karena masih kurangnya
aksesibiltas antar wilayah kota surabaya. Ditambah lagi karena kemacetan
yang terjadi di jalan Mastrip setiap harinya.
Namun demikian, status kewenangan pembinaan jalan merupakan kewenangan
pemerintah propinsi Jawa Timur. Hal itulah yang masih menjadi halangan
pembangunannya. Sering terjadi genangan yang cukup tinggi dan
membutuhkan waktu yang lama untuk menuntaskannya. Masalah itu pula yang
menjadi dasar mengapa pembangunan jalan itu menjadi sangat penting.
Genangan air itu dikarenakan saluran tepi kurang berfungsi secara
optimal serta adanya hambatan pada goronggorong. Oleh karena itu,
Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Bina Marga dan Pematusan telah
berkirim surat ke Dinas PU Bina Marga Propinsi Jatim terkait masalah
tersebut diatas. Program pembangunan jalan tembus tersebut ditujukan
untuk meningkatkan perekonomian wilayah Surabaya barat. Peningkatan
perekonomian ini disebabkan karena akses wilayah Surabaya barat menjadi
terbuka.
Ekspose APBD 2009 Membangun Optimisme
TAK TERASA tahun 2008 sudah beranjak meninggalkan jauh ke belakang. Satu tahun sudah program yang dirancang pemerintah kota Surabaya dijalankan. Tahun 2009 pun muncul sebagai tahun baru yang akan mengiringi segala aktifitas. Program pembangunan untuk kurun waktu satu tahun ke depan pun sudah dipersiapkan, menunggu untuk segera diwujudkan. Di tahun 2009, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya mencapai lebih dari Rp. 4 Triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan sejumlah 33% dari tahun sebelumnya. APBD ini merupakan salah satu APBD kota/kabupaten terbesar di Indonesia. Bahkan di setiap tahunnya, Surabaya menjadi penyokong terbesar untuk APBD Jatim. Karena memberikan sumbangan lebih dari Rp. 3 Triliun dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) milik warga kota. Surabaya juga menjadi penyumbang terbesar APBN yang diperoleh dari pajak. Terutama cukai rokok yang dapat mencapai puluhan triliunan rupiah per tahunnya. Di tahun ini, pemkot Surabaya mengusung APBD untuk kesejahteraan rakyat. Perubahan orientasi APBD 2009 mengusung prioritas pada pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan rakyat. Diharapkan inisiatif ini dapat menjadi stimulus dan menyalurkan energi positif bagi warga kota Surabaya. Untuk menghadapi kondisi krisis dan melambatnya kinerja ekonomi. APBD 2009 makin mencerminkan kapasitas ekonomi Surabaya. Hal ini tampak dalam alokasi anggaran sebesar Rp. 2,8 Triliun (sekitar 70%) yang dialokasikan untuk belanja langsung. Diharapkan belanja langsung tersebut bukan saja dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Tetapi, juga dapat menjadi stimulus untuk bergeraknya ekonomi di sektor swasta. Lihat saja, meskipun layanan pendidikan dan kesehatan, baik yang dasar maupun lanjutan, sudah tersedia dengan harga yang terjangkau. Pemkot terus menginginkan untuk meningkatkan kualitas menjadi lebih baik dengan harga yang makin terjangkau. Anggaran pendidikan kota Surabaya meningkat dengan pesat, hampir mencapai Rp. 1,2 triliun. Ini setara dengan 30% dari total belanja daerah. Alokasi Ini merupakan salah satu persentase alokasi terbesar di Indonesia. Dari total jumlah tersebut, lebih dari Rp. 714 miliar dialokasikan untuk pendidikan. Digunakan untuk gaji guru, bantuan hibah, untuk sekolah hingga bantuan sosial untuk anak usia sekolah yang belum sekolah. Khusus untuk pendidikan dasar, saat ini pemkot Surabaya telah mampu menyediakan biaya profesional sesuai dengan anggaran yang diajukan oleh Kepala Dinas Pendidikan. Sehingga tidak ada alasan bagi kepala sekolah menarik pungutan untuk kebutuhan operasional sekolah. Selain itu, pemkot juga telah mampu memenuhi kebutuhan angga ran operasional dan investasi untuk Sekolah Berstandar Interna sional (SBI) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sehingga diharapkan tidak ada lagi pemisahan sekolah berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua siswa semata. Semua siswa-siswi di Surabaya diharapkan mampu untuk menggapai cita-citanya sesuai kemauan dan kemampuannya. Untuk alokasi anggaran kesehatan, pemkot menyediakan pelayanan kesehatan keluarga miskin lebih dari Rp. 21 miliar. Termasuk juga penyiapan Jamkesmas Non Kuota sekitar Rp. 10 miliar dan pelayanan untuk pemeliha raan lanjut usia (lansia) sekitar Rp. 6 miliar. Jika kebutuhannya meningkat maka akan diusulkan di Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2009. Alokasi ini dapat dimanfaatkan warga kota Surabaya yang bukan termasuk dalam kriteria miskin tetapi dalam perjalanannya kemudian menjadi miskin. Karena dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, sebuah langkah antisipasi merupakan salah satu kunci penting. Inovasi pun terus dilakukan oleh pemkot Surabaya. Salah satunya te robosan untuk kesehatan masyarakat dalam pelayanan Puskesmas keliling. Setiap satu Puskesmas keliling (mobil) akan melayani 63 Posyandu. Jika satu mobil puskesmas keliling tersebut dapat melayani tiga Posyan du dalam satu hari, maka semua Posyandu tersebut akan menda pat kan pelayanan setiap 22 hari. Tentu saja warga kota, terutama yang miskin, tidak perlu lagi mengeluarkan biaya transportasi untuk berobat. Anggaran infrastruktur juga dialokasikan sebanding dengan anggaran untuk kesejahteraan rakyat, seperti; pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Lebih dari Rp. 1 triliun dialokasikan untuk anggaran pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Alokasi anggaran pemba ngunan dan pengembangan infrastruktur mengalami kenaikan lebih dari 68% dari tahun sebelumnya. Anggran infrastruktur dialokasikan untuk pembangunan jalan baru sepanjang 7,28 km, Box Culvert di Banyu Urip, Semolowaru dan Menur, serta jalan tembus di Balas Klumprik sepanjang 3,1 km. Alokasi anggaran tersebut juga digunakan untuk pemasangan Pene rangan Jalan Umum (PJU) di 4.200 titik, pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana permukiman pada 677 lokasi, dan rehabilitasi atau pemeliharaan saluran drainase/ gorong-gorong pada 610 lokasi. Peningkatan terbesar terjadi pada program pengendalian banjir dan pengamanan pantai yang sekarang menjadi lebih dari Rp. 271 miliar. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 170% dari tahun lalu. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada program pengelolaan jalan dan jembatan. Alokasi anggaran menjadi sekitar Rp. 305 miliar, naik 85% dari tahun sebelumnya. Menurut wali kota Surabaya, Bambang DH, diharapkan dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur ini biaya hidup warga kota menjadi lebih terjangkau. Pemkot Surabaya masih mempunyai pekerjaan rumah yang membutuhkan kerjasama dengan semua pihak. Pekerjaan rumah itu adalah program peningkatan ekonomi rakyat. Saat ini sudah terdapat aneka kampung produktif, seperti kampung lontong, kampung sabun, kampung dinamo, kampung ilmu, atau sentra PKL, seperti di Taman Bungkul, Karah, Dharmawangsa, dan Urip Sumuharjo. Di tahun 2009 ini diharapkan akan dibangun 17 sentra PKL dan pasar hobi. Pelaksanaan ini dapat memanfa at kan dana CSR (Corporate Social Responsibility) dan social energy dari media serta masyarakat luas. Gairah dan kepedulian pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK), tampak dari sema ngat gotong-royong yang ditunjukkan stakeholder kota Surabaya. Krisis ekonomi seperti saat ini merupakan momentum yang tepat untuk merencanakan masa depan ekonomi kerakyatan. Perbaikan dan pembangunan terus-menerus dilakukan pemkot Surabaya di sana-sini. Tidak hanya secara kasat mata dari sisi fisik dan bangunan saja. Pola perilaku masyarakat pun sedikit demi sedikit tertata dengan baik, bersinergi dengan lingkungan alam. Seperti keinginan untuk menekan jumlah perokok pemula dan mening katkan kualitas kesehatan perokok pasif. Hendaknya dilaksanakan dengan tetap menghargai hak warga kota untuk merokok di area yang diijinkan, baik di tempat umum maupun tempat kerja. Semua alokasi APBD 2009 ini diharapkan dapat memacu kualitas hidup warga kota menjadi lebih berkualitas. Dengan terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada warga kota sebagai stakeholder. Sebab, jika layanan publik kualitasnya semakin lebih baik, maka biaya hidup makin terjangkau. Pada akhirnya warga kota masih bisa memiliki dana lebih untuk melakukan konsumsi lainnya. Dengan begitu diharapakan dapat menggerakkan ekonomi lokal. Terbukti berdasarkan survei independen, Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Surabaya ternyata lebih rendah dari banyak ibukota propinsi lainnya. Termasuk lebih rendah dari lima kota/kabupaten di sekitarnya. Inilah prestasi keunggulan layanan publik di kota Surabaya. Meski diakui secara jujur oleh wali kota jika APBD 2009 secara signifikan mungkin belum dapat meningkatkan pendapatan warga. Tetapi, diharapkan dapat membantu warga kota, termasuk warga kota yang mengalami dampak krisis ekonomi. Alokasi APBD 2009 memang membersitkan optimisme publik. Tetapi, untuk mewujudkan visi menjadi kota jasa dan perdagangan yang Cerdas dan Peduli (Smart and Care), masih dibutuhkan kerja keras yang cerdas antara pemerintah, masyarakat, dan swasta. Untuk terwujudnya kota Surabaya yang berkelas dengan warganya yang berkualitas.
Sūraṯ al-Ikhlāṣ (Arab: سورة الإخلاص) (Yang Ikhlas), atau Sūraṯ al-Tawḥīd (Arab: سورة التوحيد) (Monoteisme) adalah surah ke-112 dalam al-Quran. Ia merupakan penyataan ringkas tauhid, keesaan mutlak Allah, yang terdiri daripada 4 ayat. Al-Ikhlas bererti "kesucian" atau "penulenan", yang bermaksud untuk kekal suci dan setia atau keadaan membersihkan jiwa seseorang dari kepercayaan bukan-Islam, seperti paganisme dan kemusyrikan. Ini adalah satu-satunya surah dalam al-Quran yang namanya tidak hadir atau tidak mempunyai hubungan linguistik terhadap surah itu sendiri.
Status surah ini diperdebatkan apakah ia sebuah surah Makkiyah atau Madaniyah. Yang pertama tampaknya lebih mungkin, terutama kerana ia seperti menyentuh secara tidak langsung hal Bilal, yang, ketika dia sedang diseksa oleh tuannya yang kejam, berulang kali mengatakan "Ahad, Ahad! "(Tunggal, merujuk kepada Allah). Hal ini dilaporkan dari Ubay ibn Ka'ab yang terungkap setelah kaum musyrikin bertanya "Wahai Muhammad! Beritahu kami garis keturunan Tuhanmu."
[sunting] Pengenalan dan ringkasan pada Surah Al-Ikhlas
Surah ini meringkaskan dalam empat ayat tentang keilahian dan keesaan Tuhan (Allah).
Surat Ikhlas dikenali sebagai Surah Pelindung.
[sunting] Tulisan, transliterasi & terjemahan bahasa Arab
Bahasa Arab:
بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ١
اللَّهُ الصَّمَدُ ٢
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ٣
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ٤
Transliterasi:
Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
1. Qul huwa Allahu ahad
2. Allahus-samad
3. Lam yalid walam yulad
4. Walam yakun lahu kufuwan ahad
Terjemahan:
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Lagi Maha Penyayang
1. Katakanlah (wahai Muhammad): (Tuhanku) ialah Allah Yang Maha Esa.
2. Allah Yang menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat.
3. Dia tiada beranak dan Dia pula tidak diperanakkan
4. Dan tidak ada sesiapapun yang serupa denganNya.
[Nota] Harus diingatkan bahawa al-Qur'an pada asalnya tidak bertulis, dan ayat/surah tidak pernah bernombor. Namun untuk keselesaan para penganut, nombor-nombor ini secara tradisionalnya dicetak. Begitu juga dengan kalimah Bismillah yang ditulis pada awal (hampir) setiap surah. Ia bukanlah sebahagian daripada surah al-Ikhlas, namun dicetak kerana telah diperintahkan dalam al-Quran untuk memulakan membaca / melafazkan al-Quran dengan nama Allah.
Friday, March 25, 2011
PENCATATAN PERISTIWA KELAHIRAN
A. Latar Belakang
Sebelum lahirnya
Undang-Undang Catatan Sipil yang bersifat Nasional dalam kurun waktu beberapa
periode yang lalu dimana dalam pelaksanaan pencatatan Sipil dasar aturan yang
terpakai sampai dengan tahun 1967 Catatan Sipil masih terbatas pelayanannya
terhadap beberapa golongan tertentu saja seperti misalnya pada :
a. Golongan Eropa (berdasarkan Stbld. 1849 No. 25).
b. Golongan Timur Asing (berdasarkan Stbld. 1917 No. 130 jo
S. 1919 No. 81).
c. Golongan Indonesia yang terbatas pada mereka yang
- Golongan Nasrani untuk Pulau Jawa, Madura, Minahasa
(daerah tertentu) berdasarkan Stbld. 1933 No. 75 jo Stbld. 1936 No. 607.
- Berdarah Bangsawan (bergelar Raden atau bergaji minimal
100 Gulden, Opsir, dan lain-lain).
Setelah diterbitkannya
Instruksi Presidium Kabinet Ampera No. 31/U/IN/12/1966 tanggal 27 Desember 1966,
maka sejak saat itu Catatan Sipil dinyatakan untuk pelayanannya “ TERBUKA UNTUK UMUM “.
Bahwa status Catatan
Sipil yang semula berada dibawah Administrasi Departemen Kehakiman, namun
dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1983
tertanggal 25 Februari 1983 tentang Penataan dan Peningkatan Pembinaan
Penyelenggaraan Catatan Sipil, maka
status kelembagaan Catatan Sipil beralih dibawah kewenangan Departemen Dalam
Negeri. Sehubungan dengan peralihan kewenangan administrasi kelembagaan Catatan
Sipil tersebut, maka Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Surat Keputusan Menteri
Dalam Negeri No. 54 Tahun 1983 tertanggal 27 Oktober 1983 tentang Struktur
Organisasi dan Tata Kerja Catatan Sipil Kabupaten / Kota. Dengan demikian
Struktur Organisasi Catatan Sipil mulai tanggal 1 Januari 1985 memiliki
nomenklatur Kantor Catatan Sipil dimana terdapat 3 type sesuai dengan kondisi
daerah masing-masing yaitu : Type A, Type B dan Type C. Kantor Catatan Sipil
Kota Surabaya pada saat itu bertype A. Dengan diterbitkannya Undang-Undang
Otonomi Daerah No. 22 Tahun 1999 yang disempurnakan dengan Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah berdampak dengan perubahan bentuk
organisasi dari Kantor Catatan Sipil berubah menjadi Dinas Pendaftaran Penduduk
dan Pencatatan Sipil dan pada tahun 2006 berubah lagi menjadi Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil sampai saat ini.
Dengan diterbitkannya
Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan
diundangkan pada tanggal 29 Desember 2006 yang selanjutnya diterbitkan
peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang tersebut yaitu Peraturan Pemerintah
No. 37 Tahun 2007 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006
tentang Administrasi Kependudukan yang serta dalam implementasinya diterbitkan
Peraturan Presiden RI No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil sebagai pengganti peraturan terdahulu
dimana masih banyak mengadopsi peraturan warisan Kolonial Belanda, sangatlah
berdampak langsung terhadap proses administrasi pencatatan peristiwa penting
yang dialami penduduk tidak hanya dipandang dalam masalah hukum semata, namun
terkait pula dengan kepentingan statistik dan pemanfaatan data untuk
kepentingan Institusi lain yang terkait dalam rangka pemenuhan dari salah satu
hak anak untuk memiliki identitas Akta Kelahiran.
B. Tugas Bidang Pencatatan Sipil
Berdasarkan
Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 8 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat
Daerah dan Peraturan Walikota Surabaya No. 41 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas
dan Fungsi Dinas Kota, maka dalam hal Bidang Pencatatan Sipil mempunyai tugas
sebagai berikut :
1. Penetapan kebijaksanaan pencatatan sipil skala kota ;
2. Pelaksanaan fasilitasi, sosialisasi, bimbingan teknis,
advokasi, supervisi dan konsultasi pelaksanaan pencatatan sipil skala kota ;
3. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan pencatatan sipil
skala kota ;
4. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan
penyelenggaraan pencatatan sipil skala kota ;
5. Pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia pengelola
pencatatan sipil skala kota ;
6. Pengawasan atas penyelenggaraan pencatatan sipil skala kota.
C. Jenis Pelayanan Pencatatan Sipil
a. Pencatatan dan penerbitan Kutipan Akta Kelahiran ;
b. Pencatatan dan penerbitan Kutipan Akta Perkawinan ;
c. Pencatatan dan penerbitan Kutipan Akta Perceraian ;
d. Pencatatan dan penerbitan Kutipan Akta Pengakuan Anak ;
e. Pencatatan dan penerbitan Kutipan Akta Kematian ;
D. Landasan Hukum Pencatatan Akta Kelahiran
1. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
;
2. Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan ;
3. Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2007 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan ;
4. Peraturan Presiden No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan
dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil ;
5. Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 2 Tahun 2007 tentang
Persyaratan Pendaftaran dan Pencatatan Sipil.
E. Status Anak Dalam Keperdataan
1. Anak sah dari perkawinan sah (Suami dan Istri)
2. Anak lahir diluar perkawinan sah
3. Anak yang diakui oleh ayah biologis dengan persetujuan
ibu kandungnya
4. Anak yang disahkan oleh karena adanya perkawinan orang
tuanya
5. Anak angkat (anak yang diadopsi)
6. Anak dari orang tua yang tidak diketahui (anak temuan)
F.
Azas Pencatatan Peristiwa Kelahiran dan Kematian
Setelah lahirnya
Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan maka terhadap
pencatatan peristiwa kelahiran dan kematian dilaksanakan berdasarkan AZAS
PERISTIWA dimana pelaporannya ditentukan oleh TEMPAT PERISTIWA tidak
berdasarkan tempat domisili (KK dan KTP).
G. Persyaratan dan Tata Cara Pencatatan Akta Kelahiran
H. Batas Waktu Pelaporan
I. Persyaratan
dan Tata Cara Pencatatan Akta Kematian
J. Manfaat Kepemilikan Akta Kelahiran
K. Pembatalan Akta Catatan Sipil


11:55 PM
Icha
